Jumat, 07 September 2018

Forex vs Other Investment Programs

Artikel ini ada untuk menjawab pertanyaan diatas. Berikut beberapa kelebihan yang ditawarkan forex trading yang tidak dapat ditawarkan investasi lainnya:

1. Return on Investment tertinggi dibanding investasi lainnya.
Adakah investasi yang sanggup menawarkan return hingga tak terbatas? Forex dapat melakukannya!

2. Likuiditas yang tinggi.
Ini berarti Anda selalu dapat membeli atau menjual mata uang yang hendak Anda transaksikan dan tidak ada istilah gagal serah disini. Ketika Anda melakukan aksi beli, selalu ada pihak lain yang akan menjualnya kepada Anda dan sebaliknya. Ini terjadi karena memang lingkup investasi forex adalah bursa dunia yang saling terhubung satu sama lain. Berbeda dengan bursa lokal (ex: BEJ) dimana transaksi hanya berlangsung pada bursa tersebut saja sehingga dapat terjadi peristiwa gagal serah.

3. Modal yang dibutuhkan relatif kecil.
Memang dahulu modal yang dibutuhkan bisa sangat besar (mencapai 100 Juta). Tapi kini dengan hanya Rp 5 juta saja. Bandingkan dengan investasi lain misalnya saham yang membutuhkan modal setidaknya Rp 20 Juta atau investasi sektor riil yang biasanya lebih dari Rp 50 Juta.

4. Jam trading 24 jam sehari dan 5 hari seminggu.
Tidak ada kata malam atau siang hari dalam dunia forex trading. Pasar berlangsung selama 24 jam sehari dimulai dari pasar Asia hingga pasar Eropa dan Amerika. Bandingkan dengan Saham yang hanya buka pada office hours atau pasar komoditi yang hanya buka pagi hingga siang hari. Jika Anda seorang pekerja kantoran, Anda dapat bertransaksi forex trading pada malam hari dan tidak mengganggu jam kerja Anda.

5. Dimana saja, kapan saja dan siapa saja bisa bergabung.
Betul, investasi tidak mengenal kasta. Begitu juga dengan forex trading. Siapa pun Anda, pedagang, pekerja, seorang ibu rumah tangga atau bahkan seorang petani sekali pun dapat bergabung. Dan lebih hebatnya lagi dengan kemajuan dunia internet, Anda dapat bertrading dimana saja tanpa harus pergi ke bursa yang bersangkutan atau menelepon dealer Anda secara langsung. Ini jelas menghemat waktu dan biaya Anda!


Psikologi Live Trading

Sekilas, Forex trading terlihat mudah. Anda tentu juga tidak kesulitan ketika belajar sedikit tentang analisis teknis dan kemudian melihat kembali data, mencari trading di tren sebelumnya, serta menemukan cara yang tepat untuk membuat langkah mencapai impian. Yang kerap terjadi kemudian adalah ketika Anda sudah merasa bisa dan mendapatkan keuntungan dari transaksi dalam demo Forex, maka biasanya Anda akan cepat-cepat menggantinya ke live Forex.

Mengapa sebagian besar orang tergesa - gesa untuk  pindah dari demo ke live trading? Apakah pasar dan grafik akan berbeda sama sekali ketika Anda melakukan pergantian dari demo ke live trading? Atau adakah sesuatu yang menahan kita untuk segera  memenangkan trading dan menghasilkan uang dari live trading?

Jawabannya baru terkuak beberapa saat setelah terjadi trial, error, dan kekalahan. Setelah itu, biasanya Anda akan menyerah dan berpikir bahwa menghasilkan uang dari Forex trading adalah hal yang mustahil. Jika mungkin ada beberapa orang yang berhasil di Forex trading, Anda akan menganggap mereka jenius dan luar biasa, serta memiliki rahasia yang tidak akan pernah dibagikan kepada trader lainnya. Sementara beberapa orang lain  berpikir bahwa Tuhan telah menghalangi langkah mereka dalam trading ini. Jika Anda mulai berpikir hal yang sama dan mengiyakan beberapa pendapat tersebut, maka jangan ragu - ragu lagi untuk menyerah dalam trading Forex.
Apa yang baru saja Anda baca biasa dialami dan terjadi pada 98% trader. Banyak kesaksian serupa datang dari orang-orang yang menyerah setelah atau bahkan kurang dari satu minggu mengikuti trading. Cerita berikut cukup menarik untuk dicerna. Ini adalah sebuah kisah dari seorang pria yang mendaftar untuk live account beberapa bulan yang lalu. Pada awalnya, dia tampak begitu bersemangat, tetapi setelah kurang dari seminggu, dia berkata ingin menutup account-nya karena merasa telah cukup mencoba. Ia berpikir ia tidak bisa menghasilkan uang melalui Forex. Tidak lama berselang, dia mempunyai ide untuk menghasilkan uang dengan cara mempromosikan produk di eBay.

Kita tidak mengetahui apa yang dilakukan pria itu sekarang, tetapi satu hal yang pasti, tidak lama ia juga akan menyerah berjualan di eBay dan banyak hal lain setelahnya. Pada intinya, dia masih mencari cara bagaimana dapat menghasilkan uang.

Ada satu poin yang kurang disadari yaitu bahwa entah itu Forex, saham, eBay, pengiriman pizza, mengemudi taksi, mencuci piring dan berjuta pilihan lainnya akan berakhir di tempat yang sama selama dia tidak tahu di mana kunci keberhasilan untuk mendapatkan uang.

Ada begitu banyak orang telah mencoba selama bertahun-tahun dan masih kehilangan modal. Mereka mencari sistem perdagangan yang lebih baru dan indikator yang lebih baik. Memang, mereka tidak menyerah melakukan trading Forex, tapi mereka tidak mencoba untuk menemukan alasan di balik kegagalan mereka selama beberapa tahun terakhir. Jika mereka telah menghabiskan modalnya hanya beberapa menit, seharusnya mereka bisa dengan mudah melihat di mana akar masalahnya.

Semua orang kadang-kadang mengalami kegagalan, tetapi tidak semua bisa belajar dari kegagalan dan kemudian memperbaiki kebiasaannya. Orang-orang yang mampu belajar dan bangkit dari kegagagan-lah yang pada akhirnya akan berhasil. Mereka yang tidak memperbaiki diri terus saja menuduh orang lain, kondisi, dan nasib dibalik kegagalannya. 99,99% alasan kegagalan dalam berbagai hal seperti Forex umumnya justru berasal dari dalam diri Anda sendiri yang selalu menyalahkan pihak lain. Maka dari itu, mulailah untuk mulai instropeksi diri, lihat penyebab kegagalan Anda selama ini, buka pikiran Anda untuk mengakui kesalahan, dan lakukan apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kinerja trading Anda. Jangan menyerah dulu sebelum Anda mencoba langkah-langkah tersebut.

3 Style Trader Forex

Trader dapat kita jadikan 3 kelompok berdasarkan cara dan waktu tradingnya. Trader yang saya maksudkan disini adalah trader individu atau organisasi atau institusi keuangan yang trading untuk memperoleh profit dari fluktuatif nilai mata uang, bukan untuk kepentingan transaksi perdagangan internasional.

1. Trader Scalping

Trader seperti ini menerapkan cara scalping yaitu melakukan banyak order namun target perolehan pips yang sedikit antara 8 - 20 pips. Biasanya trader ini memanfaatkan banyak waktu didepan komputer untuk mengawasi pergerakan nilai mata uang. Trader ini cukup ketat dalam mengelola margin, biasanya mereka menggunakan Stop Loss karena tidak ingin kerugian mereka menjadi banyak.

Alasan broker melarang teknik ini tak lain karena membebani server. Biasanya Broker mempersulit para trader untuk entry/exit pada posisi yang diinginkan pada saat perdagangan tengah berlangsung, walaupun dijanjikan adanya fasilitas instant execution. Namun ada beberapa broker yang mengizinkan teknik ini dengan syarat-syarat tertentu.

2. Trader Intraday

Trader Intraday adalah perdagangan yang diarahkan pada perolehan keuntungan dalam satu hari. Trader jenis ini banyak menghabiskan waktu didepan komputer namun tidak mesti mengawasi pergerakan harga mata uang setiap saat. Target perolehan pips mereka lebih besar dari trader scalping, biasanya antara 20-80 pips. Namun frekuensi ordernya lebih sedikit dibandingkan trader scalping.

3. Trader Swing

Swing trading adalah sebuah gaya trading yang mencoba untuk menangkap keuntungan dalam pasar mata uang dalam waktu satu sampai empat hari. Swing trader menggunakan analisa teknikal untuk memilih mata uang dengan harga momentum jangka pendek. Para pedagang ini tidak tertarik pada nilai fundamental, tetapi lebih pada tren harga dan pola.

Biasanya style trading ini digunakan oleh trader yang tak ingin terus menerus mengamati chart. Lembaga Keuangan dalam ukuran terlalu besar tidak mudah untuk keluar masuk pasar dengan cepat. Maka pedagang individulah yang mampu mengeksploitasi gerakan harga mata uang dengan cepat tanpa harus bersaing dengan pedagang besar. Itulah alasan trader individu paling banyak menggunakan style ini.

 Trader ini tidak selalu mengawasi komputer setiap saat karena mereka cukup longgar dalam mengelola margin. Mereka bisa menahan loss hingga ratusan pips dan tidak banyak yang menggunakan Stop Loss atau kalaupun menggunakan Stop Loss dengan pips yang besar. Makanya tidak mengherankan bila trader ini meng-close order hingga berhari-hari. Target perolehan pips trader ini besar, biasanya lebih dari 80 pips.

Saat Loss dan Profit

Perdagangan selalu dikaitkan dengan yang namanya untung atau rugi. Permintaan dari pembeli selalu menginginkan harga yg murah untuk mendapatkan produk yang sebanyak-banyaknya. Begitu juga dengan penawaran yang diberikan oleh penjual untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari penjualan produknya.

Seiring berkembangnya waktu, dan keadaan harga suatu pair, menjadikan pedagang harus mau tidak mau melakukan pengaturan modal dan mengikuti pergerakan pasar. Harapan trader dalam setiap transaksi selalu menjadi prioritas utama untuk tetap profit dan mendapatkan hasil yang besar.

Namun, dalam kenyataannya trader selalu dihadapkan oleh yang namanya profit dan rugi. Keuntungan yang akan dihasilkan selalu menjadikan orang semangat untuk bertransaksi, begitu juga sebaliknya bila dengan rugi yang didapat.

Nah, dari hal tersebut, kita akan mengevaluasi reaksi trader dalam menyikapi mengenai untung dan rugi, diantaranya :

#Saat Profit
Kadang kala trading kita selalu menghasilkan, walaupun sedikit analisa tetap saja profit. Ini biasanya terjadi tanpa adanya kesengajaan yang akan kita lakukan pada transaksi yang bisa untung tersebut. Dalam keadaan normal, profit selalu didapatkan dari hasil analisa. Walaupun terkadang analisa kita meleset, keberuntungan tetap kadang menghampiri.
Lalu, apa reaksi Anda bila mendapat profit? Mungkin ada rasa senang, ada rasa bangga, atau merasa sudah cukup menguasai market karena telah mendapatkan rahasia sukses di forex trading. Hal itu akan dialami oleh trader diseluruh dunia, baik yang baru belajar, pemula, atau yang agak lama terjun di dunia forex. Dan kadang timbulah keinginan memamerkan hasi profit dengan mempostinya di wall-wall  FB kita atau grup-grup forex

#Saat Loss
Walaupun profit pasti di idam-idamkan, kesalahan dalam transaksi akan ditemui juga. Kegagalan pada trading kadang masih dijumpai. Loss demi loss selalu saja terlihat dihistory. Itu semua menandakan kerugian terhadap perdagangan valas selalu ada, dan mungkin hingga Anda menjadi master sekalipun, loss pasti akan selalu mengikuti.

Seandainya kerugian memang memaksa Anda dan tidak ada pilihan, apa reaksi Anda jika cut loss tak terelakkan? Stop Loss mulai tersentuh? mungkin sebagian dari Anda akan merakan sedih, atau merasakan sakit, frustasi, putus asa, atau malah berhenti trading.

Keuntungan maupun kerugian merupakan seperti sebuah sisi dari mata uang. Dimana faktor loss dan profit tidak bisa dipisahkan dari sisi trading Anda. Tentu saja akan selalu melekat pada masing-masing open posisi Anda hingga posisi selesai. Jika Anda hanya mengharapkan profit saja dan tak rela mendapatkan loss, trading di forex akan sangat memberikan tekanan lebih besar kepada psikolgois Anda.

Cobalah untuk mengenali reaksi diri Anda, baik saat sedang profit atau sedang mengalami loss. Bila Anda masih menginginkan profit disetiap pergerakan harga, mungkin Anda perlu intropeksi diri. Ini menandakan Anda masih terombang ambing oleh psikologis market.

Reaksi dari apa yang telah Anda peroleh akan sangat mempengaruhi psikologis jiwa Anda. Rasa bangga dan senang saat profit, atau rasa frustasi dan sedih saat loss masih menyelimuti diri Anda, berarti Anda perlu waspada untuk intropeksi diri. Cobalah untuk mempelajari reaksi dari setiap profit dan loss pada trading Anda. Bila Anda mampu mengenalinya, kemungkinan besar psikologis Anda akan mampu meningkatkan percaya diri tanpa terombang ambing oleh market.

Memadukan Indikator

Anda tentu masih ingat dasar-dasar analisis teknikal yang telah Anda pelajari di awal-awal modul edukasi ini, seperti support/resistance dan trend line. Anda juga telah mempelajari macam-macam indikator teknikal, jenis-jenis pola candlestick dan price pattern. Sekarang Anda akan melanjutkan petualangan dengan berbagai alat bantu analisis teknikal tersebut.

Memadukan indikator yang satu dengan yang lain bisa membantu Anda untuk menemukan perspektif yang lain pada pergerakan harga. Pemaduan ini juga bisa membuat indikator “saling melengkapi”. Hal seperti ini biasa disebut sebagai “sistem trading”. Misalnya, moving average yang pada dasarnya adalah indikator tren dilengkapi dengan stochastic yang merupakan osilator untuk menentukan timing buy atau sell.
Dalam chapter ini, Anda akan melihat contoh-contoh penggunaan indikator yang digunakan bersama-sama dengan indikator lain. Kita tidak akan membahas terlalu banyak, yang akan kita bahas hanya sistem yang sederhana dan populer saja, sebagai dasar untuk membangun sistem trading.

Biasanya, para trader mengkombinasikan dua hingga tiga indikator yang berbeda dalam sistem trading mereka. Keputusan untuk buy atau sell diambil ketika ketiga indikator tersebut telah “mengkonfirmasikan” sinyal yang sama.

Baiklah, tanpa perlu berpanjang-lebar, kita mulai petualangan kita.

1. Pemanfaatan pattern
Ini adalah sistem yang sangat sederhana. Anda hanya perlu  mengenali pola yang muncul untuk memperkirakan pergerakan harga selanjutnya. Tentu saja, untuk bisa mengenali kemunculan pola, Anda harus memperbanyak latihan agar pengamatan Anda semakin jeli.

2. Fibonacci retracement + candlestick/price pattern
Teknik ini bisa dikatakan cukup sederhana. Yang Anda butuhkan hanyalah trend line dan sedikit bantuan dari Fibonacci retracement dan sedikit bantuan dari candlestick dan/atau price pattern.
Sistem ini berpatokan pada tren. Oleh karena itu, tentu saja pemahaman yang baik mengenai tren itu sendiri mutlak diperlukan. Sistem ini juga menggunakan strategi bounce trading yang memanfaatkan level acuan Fibonacci retracement.

Yang pertama kali harus Anda lakukan adalah menentukan tren. Langkah selanjutnya, tarik Fibonaci retracement berdasarkan swing terakhir yang Anda lihat di chart. Kemudian, perhatikan area acuan Fibonacci retracement tersebut, yaitu 38.2%, 50% dan 61.8%.

 fibonacci + pattern

Selanjutnya, cari bounce (pantulan) dari area acuan Fibonacci tadi. Konfirmasi yang bisa Anda pergunakan adalah pola candlestick atau pattern.
Jadi, Anda harus menunggu pullback ke area acuan Fibonacci lalu mencari apakah ada konfirmasi pattern bullish/bearish. Pattern/pola tersebut bisa candlestick (morning/evening star, engulfing, dll) atau price pattern seperti double top, double bottom, dan lain-lain.

3. Fibonacci retracement + stochastic oscillator + CCI
Masih dengan Fibonacci retracement, tapi kali ini kita akan memadukannya dengan stochastic dan CCI. Penggunaannya juga cukup mudah. Kita menunggu sampai pullback terjadi ke area acuan Fibonacci, lalu tunggu sinyal buy/sell dari stochastic dan CCI. Sinyal harus muncul dari kedua indikator tersebut untuk memperoleh konfirmasi sinyal yang kuat.
OK. Sistem trading yang dijelaskan di atas hanya beberapa contoh yang bisa Anda pergunakan. Anda bisa bereksperimen untuk memadukan beberapa indikator hingga menjadi sistem trading yang sesuai dengan style trading Anda.

Trading Di Akhir Pekan: Amankah?

Dulu, saat awal-awal belajar trading forex, ada teman trader yang memberi saran, sebaiknya jangan trading akhir pekan, atau tepatnya di hari Jumat.  Dia begitu serius dalam memberikan saran tersebut, sampai-sampai kesan yang saya tangkap saat itu adalah: trading forex di hari Jumat adalah suatu hal yang "tabu". 

Alhasil, selama beberapa minggu setiap hari Jumat, saya cuma buka platform dan asyik mengamati chart, kadang sampai berjam-jam, tanpa berani melakukan open position. Untunglah, kemudian saya coba mencari second opinion, bertanya kepada teman-teman trader yang lain, apakah trading akhir pekan itu benar berbahaya? Kenapa? Apa mereka juga tidak melakukan open position di hari Jumat?

# 3 Pandangan Trader Tentang Trading Akhir Pekan
Ada banyak jawaban yang saya terima saat itu. Mulai dari yang serius, seperti: iya, sebaiknya memang berhati-hati kalau trading di hari Jumat, apalagi di jam-jam akhir menjelang market tutup. Alasannya? Katanya sih karena hari Jumat untuk sebagian besar trader adalah hari terakhir untuk mengejar target mingguan, jadinya banyak yang agak nekat take profit.

Ada juga sih yang jawabannya lebih lugas. Katanya, baginya nggak ada bedanya antara hari Jumat dengan hari-hari yang lain, asal sistem trading yang dia anut mendukung untuk open position, ya open position-lah dia. Yah, bahkan katanya, seringkali satu posisi ada yang dia biarkan ter-floating selama berminggu-minggu!

Atau yang lebih konyol lagi malahan menjawab: owh… iya, bener… hari Jumat itu bukan "hari yang baik" untuk trading, terutama Jumat Kliwon. Kalau yang ini mah pakai indikator klenik mungkin. Hehehe!

Karena begitu beraneka jawaban yang muncul, akhirnya saya memutuskan: untuk tahu apa dan bagaimana efek trading di akhir pekan, saya harus mencobanya sendiri. Memang kurang mantap rasanya, kalau segala sesuatu tidak dialami sendiri. Termasuk juga mengalami sendiri loss atau profit, karena adanya gap yang kadang terjadi di akhir-awal pekan.

# Fenomena Akhir Pekan: Gap
Jadilah akhirnya saya justru sering mencoba trading di hari Jumat. Hasilnya, terkadang nggak ada hal istimewa yang terjadi. Dalam artian, gerakan suatu pair tidak banyak melenceng dari sifat aslinya, dan di awal pekan kemudian juga tak ada gap yang terjadi. Yah, kalau gap cuma sekitar 5 pips mah masih wajarlah.

Tapi, terkadang juga terjadi gap yang lumayan besar di awal pekan. Saya bilang lumayan, karena bisa langsung melampaui TP (Target Profit) atau menyabet SL (Stop Loss) kita, hehehe…

# Apa dan bagaimana sih sebenernya "gap" itu?
Secara umum, gap merupakan selisih yang besar antara harga penutupan akhir pekan dengan harga pembukaan di awal pekan berikutnya. Jadi, harga pembukaan di awal pekan berikutnya tidak sama persis dengan harga penutupan. Gap bisa sekecil beberapa pips saja, hingga tak terbatas jumlahnya.

Sebab mengapa terjadi gap, bisa dijelaskan karena nilai matauang suatu negara dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk tentunya faktor ekonomi, politik dan faktor-faktor lainnya yang terkait dengan kegiatan  dan kejadian yang dialami oleh negara bersangkutan. Berbagai macam kejadian tersebut tentunya tidak kenal yang namanya "libur", sehingga mau tidak mau tetap berjalan dan terjadi, meskipun di akhir pekan, saat market tutup. Nah, terkadang kejadian atau peristiwa yang istimewa dapat membuat nilai mata uang sebuah negara melonjak ataupun anjlok, sehingga pada saat market buka di awal pekan, terjadi lonjakan atau anjlokan harga pada satu pair. Itulah yang sering kita sebut sebagai gap.

Lalu, bagaimana kita menyikapi kemungkinan adanya gap tersebut? Yah, itu kembali kepada gaya trading masing-masing trader sih. Ada yang memang lebih memilih menghindari gap tersebut sehingga cenderung menutup posisi sebelum market tutup.
Ada juga yang membiarkan sebuah posisi terbuka di akhir pekan, hanya saja dilindungi dengan Stop Loss atau hedging/locking. Ada bahkan yang justru mencari keuntungan dari gap yang diharapkan terjadi dengan memasang pending order sesaat menjelang market tutup.

Semuanya kembali ke selera masing-masing trader sih. Anda bebas memlih, apakah akan menghindari, menghadapi atau justru mencari gap ini. Jadi, trading akhir pekan? Yah, kenapa tidak. Asal kita tahu dan sadar segala resiko yang mungkin terjadi, semuanya tergantung kepada kita sendiri. Tak ada hari yang tabu kok untuk trading. Lah, kalau semua trader libur di hari Jumat, wah, bakalan nggak seru tuh. Ntar pair nggak ada yang gerak dong?

Kapan Buy, Kapan Sell?

Ini barangkali pertanyaan yang paling mendasar bagi seorang trader. Hampir setiap hari selalu ada pertanyaan semacam ini di chat room yang membahas masalah trading. Atau, kalo bukan dalam bentuk pertanyaan, masalah ini muncul dalam keluhan semacam "kenapa aku buy dia turun, giliran aku sell dia naik?" Ok deh, untuk menjawab pertanyaan maupun menanggapi keluhan semacam itu, mari kita coba bahas di sini kapan kita sebaiknya buy dan kapan sell. Secara umum ada dua patokan dalam menentukan kapan kita sebaiknya buy, kapan kita sebaiknya sell.

Pertama: Buy ketika trend sedang naik (dan akan terus naik), Sell saat trend turun (dan akan terus turun).

Metode ini menggunakan prinsip "follow the trend, trend is your friend". Identifikasi trend yang sedang terjadi di market kemudian ikuti saja. Mungkin anda bertanya, bagaimana cara mengidentifikasi trend? Ok, ini juga termasuk FAQ alias pertanyaan yang umum dan rutin juga. Saya akan coba memberi alternatif bagaimana mengidentifikasi trend.

Pada prinsipnya, cara identifikasi trend sangat tergantung pada type trader apa anda: Technicalist atau fundamentalist. Berapa lama anda biasa meng-hold satu posisi: apakah anda termasuk swinger, day trader atau scalper? Bagi trader yang mengandalkan analisis teknikal, trend biasanya diidentifikasi berdasarkan indicator. Ada banyak indicator yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi trend, antara lain yang mudah dan banyak digunakan adalah Parabolic SAR dan "keluarga" Moving Average. Bahasan tentang bagaimana menggunakan dan membaca indikator ini sudah pernah saya bahas dalam artikel-artikel saya sebelumnya.

Kemudian tentang berapa lama anda akan meng-hold satu posisi, hal ini berkaitan erat dengan time frame yang akan anda jadikan patokan dalam ber-trading. Berbeda time frame, bisa jadi berbeda trend yang sedang terjadi. Bisa jadi meskipun trend jangka pendek saat ini sedang turun, kalau trend jangka panjang masih cenderung naik, dan jika anda berencana untuk meng-hold posisi dalam jangka panjang, tentunya sebaiknya anda mengambil posisi Buy.

Trader swinger atau yang cenderung bermain longterm biasanya akan memilih time frame 4H keatas, sedangkan trader yang cenderung scalper atau biasa menghold posisi untuk jangka pendek, biasanya akan memilih time frame di bawah 30menit.

Ok, sekarang, bagaimana dengan trader yang cenderung fundamentalist? Berbeda dengan technicalist yang mengandalkan indikator, trader fundamentalist cenderung mengandalkan news dalam ber-trading. Jadi mereka memprediksi trend dengan memantau perkembangan berita-berita yang berhubungan dengan negara yang mata uangnya mereka trade-kan.

Secara mendasar: berita buruk berarti matauang negara tersebut akan cenderung turun.

Sebaliknya, berita baik berarti mata uang negara tersebut akan cenderung naik. Untuk menghadapi news jang memiliki high impact dan jangka pendek, mereka biasanya membaca arah market dengan membandingkan antara data forecast dan actual yang sehubungan dengan news tersebut. Hmm… sampai di sini anda mungkin bertanya-tanya adakah alternatif yang lain untuk mengidentifikasi trend? Atau barangkali anda males mengamati indikator untuk menjadi technicalist dan juga males mengikuti news untuk jadi fundamentalist?

Ada sih, sebenernya alternatif lain untuk mengidentifikasi dan mengikuti trend. Apaan tuh? Lah, kan saya udah pernah bahas tuh, tentang bagaimana membaca kekuatan buyer-seller di market. Coba baca-baca lagi deh. Intinya sih, tinggal ikuti aja sentimen mayoritas yang ada. Banyakan yang Buy kita ikutan Buy, banyakan yang Sell kita juga ikutan Sell. Simple kan?

Ok, mari kita lanjutkan bahasan kita kemarin tentang kapan waktu yang tepat untuk buy/sell. Kemarin kita sudah membahas tentang prinsip atau patokan pertama untuk buy/sell yaitu: Buy ketika trend sedang naik (dan akan terus naik), Sell saat trend turun (dan akan terus turun). Singkatnya dengan patokan ini, kita hanya mengikuti saja trend yang sedang berjalan.

Kali ini, mari kita bahas patokan yang kedua: Buy di lembah (saat harga "di bawah"), Sell di puncak (saat harga "di atas"). Ide dasar dari pemikiran ini adalah untuk memanfaatkan "seluruh" trend yang ada. Seorang temen trader pernah mengatakan, gak enak kalo cuma sekedar mengikuti trend yang sedang atau sudah berjalan atau kita masuk di tengah-tengah trend. Masuk di tengah-tengah trend, apalagi trend yang lagi kenceng-kencengnya, ibaratnya kalo seperti naik bus, kita loncat masuk ke bus yang sedang berjalan.

Sudah resiko jatuhnya tinggi (spread biasanya melebar), belum tentu juga setelah kita masuk ke bus itu, busnya akan terus jalan (jangan-jangan trend-nya sudah akan berakhir). Nah, gimana tuh? Bukannya lebih enak seandainya kita tahu "awal" dari sebuh trend sehingga kita bisa "menaiki" trend tersebut dari awal hingga akhir? Bisakah atau mungkinkah hal tersebut kita lakukan?

Hmm.. kalo kata para master, kita bisa melakukan hal tersebut dengan divergence trading. Divergence dapat dilihat dengan membandingkan price action dan pergerakan dari indikator. Terserah anda mau pake indikator mana: MACD, RSI, stochastic atau indikator lain sejenisnya. Dengan memperhatikan perbedaan antara pergerakan harga dan pergerakan indikator kita bisa mengidentifikasi kapan saat trend akan melambat dan/atau berbalik arah.

Ok deh, lain kali aja kita lanjutkan bahasan tentang divergence trading ini. Sementara kita teruskan dulu perbincangan kita tentang prinsip buy di lembah dan sell di puncak tadi. Sebenernya prinsip buy di lembah dan sell di puncak bisa juga kita terapkan secara sederhana apabila market sedang dalam kondisi sideways. Cukup dengan mengindentifikasi high-low, kita bisa "nyopet pips" dengan melakukan buy saat harga di low dan sell saat harga di high. Atau, bisa dengan bantuan indikator parabolic SAR, Moving Average dan W%R seperti gambar berikut:



Buy di lembah dan sell di puncak dengan bantuan indikator seperti di atas memang cocok untuk time frame rendah dan saat kondisi market sideways, jadi…  harap anda berhati-hati. Kondisi sideways biasanya diakhiri dengan breakout dimana harga melejit naik atau menukik tajam. Jangan sampai kita malahan terjebak buy di puncak, sell di lembah. Nah, sekarang kita sudah membicarakan dua patokan dasar untuk Buy/Sell, yaitu: Buy ketika trend sedang naik (dan akan terus naik), Sell saat trend turun (dan akan terus turun) dan/atau Buy di lembah (saat harga "di bawah"), Sell di puncak (saat harga "di atas").

Apapun posisi yang anda ambil, mungkin perlu saya ingatkan lagi tentang perlunya margin management yang intinya menjaga kekuatan margin agar sebisa mungkin terhindar dari MC. Selain margin management, perlu juga dijaga agar kita tidak terjebak over-self confidence. Sering saya denger temen trader yang main hantam buy saat trend sedang turun dan hantam sell saat harga sedang naik. Iya sih, mungkin dia yakin bahwa setelah naik nantinya harga pasti akan turun dan setelah turun pasti harga naik, tapi, who knows? Belum tentu  di seberang gunung ada lembah dan di seberang lembah ada gunung. Bisa jadi di seberang lembah bukannya gunung, tapi malahan lautan dengan palungnya yang dalam.