Dalam trading Anda tentu sering mendengar istilah bear dan bull, juga bearish dan bullish. Mungkin ada trader yang mengenal kedua istilah tersebut tetapi belum mengerti arti yang sebenarnya. Artikel ini membahas asal kedua istilah tersebut dan artinya dalam trading.
Asal Usul Istilah Bear Dan Bull
Istilah bear berasal dari kata "bear" dalam bahasa Inggris yang artinya adalah beruang, sedang "bull" dalam bahasa Inggris berarti sapi jantan. Dalam pergerakan harga pasar, kedua istilah tersebut mengacu pada cara bedua jenis binatang tersebut menyerang lawan-lawannya. Beruang akan membanting lawannya kebawah sementara sapi jantan akan menanduk lawannya hingga terdorong ke atas.
Kedua gerakan tersebut menyerupai turun naiknya pergerakan harga pasar dan juga cara para investor membuat keputusan untuk masuk pasar. Jika pergerakan harga pasar cenderung turun maka disebut bearish atau seperti seekor beruang yang sedang membanting lawan, dan ketika harga pasar sedang naik disebut dengan bullish atau seperti sapi jantan yang sedang menyerang.
Pasar Bearish
Pasar yang sedang bearish mencerminkan pesimisme pelaku pasar.
Biasanya keadaan ini didahului oleh merosotnya harga dengan tajam, meski dalam kenyataannya akan terjadi koreksi harga yang naik tetapi arah pergerakan trend utama tetap bearish atau dorongan turunnya harga lebih kuat. Pada kondisi pasar saham yang bearish biasanya perekonomian sedang lemah dan tingkat pengangguran meningkat. Pengeluaran konsumen merosot dan aliran investasi baru berkurang atau terhenti.
Pasar Bullish
Berlawanan dengan kondisi bearish, pasar yang bullish mencerminkan optimisme pelaku pasar. Keadaan ini didahului oleh melambungnya harga dengan tajam, meski dalam kenyataannya akan terjadi koreksi harga yang turun tetapi arah pergerakan trend utama tetap bullish atau dorongan kenaikan harga lebih kuat. Pada kondisi pasar saham yang bullish biasanya perekonomian sedang bagus dan tingkat pengangguran berada pada level yang rendah. Pengeluaran konsumen naik dan aliran investasi baru meningkat oleh risk appetite, atau keberanian mengambil resiko dari investor.
Garis Batas Bullish Dan Bearish
Batas antara kondisi bullish dan bearish dalam pasar forex lazimnya ditunjukkan oleh kurva garis moving average 200 hari (SMA-200 day). Indikator ini menunjukkan trend jangka panjang. Jika harga bergerak di bawah SMA-200 day, maka berarti pasar cenderung bearish. Sebaliknya, bila harga memotong garis SMA-200 day dari bawah ke atas dan bergerak di atas kurva tersebut, maka trend cenderung bullish.
Selain itu, perlu dicatat bahwa kondisi pasar bisa berubah-ubah. Sebagai contoh, saat ini EUR/USD bullish, tetapi beberapa jam dari sekarang bisa saja terjadi pembalikan dari mana pasangan mata uang ini akan terus bearish hingga beberapa hari mendatang.
Jumat, 07 September 2018
Trading Itu Mudah (Jika Anda Tahu Bagaimana Harus Memulai)
Quote di atas saya ambil dari mentor saya, yang telah meletakkan dasar-dasar pemahaman bagi saya tentang apa dan bagaimana cara trading yang "semestinya".
Pantang Menyerah
Sedikit saya ingin sharing di sini ya. Kurang lebih dua tahun yang lalu, dengan semangat menggebu, saya pun nyemplung ke dunia forex trading ini. Jangan kira semuanya berjalan semudah yang saya (atau mungkin anda juga) bayangkan.
"Pengorbanan" yang diperlukankan dalam proses belajar memang tidak sedikit, baik pengorbanan waktu, tenaga, maupun tentu saja, modal. Terus terang, saya yang biasanya menyombongkan diri sebagai fast learner, di forex trading ini ternyata bener-bener ketemu batunya.
Diawali dengan kesombongan yang mengakibatkan Margin Call (MC) dalam waktu 2 minggu. Untungnya, kemudian timbul kesadaran akan perlunya pemahaman yang benar dan perlunya mengabaikan keinginan balas dendam.
Dari rasa tertantang dan pengakuan bahwa ternyata forex tidak semudah yang saya bayangkan, mulailah timbul pencerahan yang konsekuensinya menuntut hari-hari penuh "perjuangan": membaca seabreg e-book, googling sana-sini, nanya (dan dicuekin) sana-sini. Hiks! Hasilnya? Nah, itu dia, yang jelas sih, tampang jadi kusut abis, karena kurang tidur. Tapi, semua proses belajar itu saya lalui dengan semangat pantang menyerah dan justru saya anggap suatu tantangan tersendiri.
Perlu Persiapan
Nah, bagi anda yang sudah bertekad ingin belajar trading, ada beberapa hal yang perlu anda pahami dan persiapkan terlebih dahulu, supaya tidak mengikuti jalan saya belajar yang terlalu berliku-liku.
Pertama, siapkan mental. Lah, kok mental duluan? Iyalah, kalo mental sudah tahan banting, apapun kondisi yang bakalan dihadapi, kita sudah akan siap.
Menjadi seorang trader itu harus punya mental yang tahan banting. Seorang teman saya bilang, dalam belajar trading, bersiap aja setahun awal untuk babak belur dulu. Makanya, siapkan mental (dan modal secukupnya saja) untuk babak belur di tahun pertama.
Kedua, persiapkan dan rencanakan cash flow (aliran dana) yang diperlukan. Hal yang perlu anda ingat adalah, jaga cash flow anda. Jangan terburu nafsu untuk melakukan invest (deposit) besar di tahun pertama.
Biasanya nih… seorang (calon) trader merasa sudah menguasai teknik trading hanya dengan beberapa kali "kebetulan" melakukan open position yang menghasilkan profit dan kemudian memutuskan untuk melakukan deposit yang relatif besar. Eits, tunggu dulu, kalo anda tidak ingin pensiun dini sebagai trader, tahan keinginan untuk deposit besar-besaran di tahun pertama, apalagi di bulan pertama.
Dari sharing pengalaman teman-teman trader lain, biasanya hasil yang konsisten baru akan tercapai setelah seseorang berpengalaman trading lebih dari setahun. Jadi, kalau anda baru belajar trading selama beberapa bulan dan merasa sudah menguasai cara trading yang benar kemudian memutuskan untuk melakukan deposit, sebaiknya lakukan deposit dalam jumlah yang tidak terlalu besar terlebih dahulu.
Ketiga, cari mentor (pembimbing) anda dalam proses belajar trading ini dan bergabunglah dengan komunitas trader yang bisa saling memberikan dorongan,semangat serta sharing teknik maupun pengalaman dalam ber-trading.
Dimana kita bisa cari mentor dan komunitas trader? Mudah saja kok. Aktiflah di forum-forum trader dan carilah trader yang sudah lebih senior dan mau memberikan bimbingan. Atau setidaknya, carilah partner diskusi yang bisa memberikan semangat dan masukan yang positif. Terus terang nih, saya tetep bisa bertahan melalui tahun awal karena dukungan semangat dari temen-temen trader yang lain.
Keempat, lakukan proses belajar trading forex dengan penuh kecintaan. Halahh… kok jadi mellow gini ya? Maksud saya gini loh…, biasanya nih… kalau dasarnya sudah cinta, maka pengorbanan pun akan terasa sebagai kenikmatan. Iya, nggak?
Pantang Menyerah
Sedikit saya ingin sharing di sini ya. Kurang lebih dua tahun yang lalu, dengan semangat menggebu, saya pun nyemplung ke dunia forex trading ini. Jangan kira semuanya berjalan semudah yang saya (atau mungkin anda juga) bayangkan.
"Pengorbanan" yang diperlukankan dalam proses belajar memang tidak sedikit, baik pengorbanan waktu, tenaga, maupun tentu saja, modal. Terus terang, saya yang biasanya menyombongkan diri sebagai fast learner, di forex trading ini ternyata bener-bener ketemu batunya.
Diawali dengan kesombongan yang mengakibatkan Margin Call (MC) dalam waktu 2 minggu. Untungnya, kemudian timbul kesadaran akan perlunya pemahaman yang benar dan perlunya mengabaikan keinginan balas dendam.
Dari rasa tertantang dan pengakuan bahwa ternyata forex tidak semudah yang saya bayangkan, mulailah timbul pencerahan yang konsekuensinya menuntut hari-hari penuh "perjuangan": membaca seabreg e-book, googling sana-sini, nanya (dan dicuekin) sana-sini. Hiks! Hasilnya? Nah, itu dia, yang jelas sih, tampang jadi kusut abis, karena kurang tidur. Tapi, semua proses belajar itu saya lalui dengan semangat pantang menyerah dan justru saya anggap suatu tantangan tersendiri.
Perlu Persiapan
Nah, bagi anda yang sudah bertekad ingin belajar trading, ada beberapa hal yang perlu anda pahami dan persiapkan terlebih dahulu, supaya tidak mengikuti jalan saya belajar yang terlalu berliku-liku.
Pertama, siapkan mental. Lah, kok mental duluan? Iyalah, kalo mental sudah tahan banting, apapun kondisi yang bakalan dihadapi, kita sudah akan siap.
Menjadi seorang trader itu harus punya mental yang tahan banting. Seorang teman saya bilang, dalam belajar trading, bersiap aja setahun awal untuk babak belur dulu. Makanya, siapkan mental (dan modal secukupnya saja) untuk babak belur di tahun pertama.
Kedua, persiapkan dan rencanakan cash flow (aliran dana) yang diperlukan. Hal yang perlu anda ingat adalah, jaga cash flow anda. Jangan terburu nafsu untuk melakukan invest (deposit) besar di tahun pertama.
Biasanya nih… seorang (calon) trader merasa sudah menguasai teknik trading hanya dengan beberapa kali "kebetulan" melakukan open position yang menghasilkan profit dan kemudian memutuskan untuk melakukan deposit yang relatif besar. Eits, tunggu dulu, kalo anda tidak ingin pensiun dini sebagai trader, tahan keinginan untuk deposit besar-besaran di tahun pertama, apalagi di bulan pertama.
Dari sharing pengalaman teman-teman trader lain, biasanya hasil yang konsisten baru akan tercapai setelah seseorang berpengalaman trading lebih dari setahun. Jadi, kalau anda baru belajar trading selama beberapa bulan dan merasa sudah menguasai cara trading yang benar kemudian memutuskan untuk melakukan deposit, sebaiknya lakukan deposit dalam jumlah yang tidak terlalu besar terlebih dahulu.
Ketiga, cari mentor (pembimbing) anda dalam proses belajar trading ini dan bergabunglah dengan komunitas trader yang bisa saling memberikan dorongan,semangat serta sharing teknik maupun pengalaman dalam ber-trading.
Dimana kita bisa cari mentor dan komunitas trader? Mudah saja kok. Aktiflah di forum-forum trader dan carilah trader yang sudah lebih senior dan mau memberikan bimbingan. Atau setidaknya, carilah partner diskusi yang bisa memberikan semangat dan masukan yang positif. Terus terang nih, saya tetep bisa bertahan melalui tahun awal karena dukungan semangat dari temen-temen trader yang lain.
Keempat, lakukan proses belajar trading forex dengan penuh kecintaan. Halahh… kok jadi mellow gini ya? Maksud saya gini loh…, biasanya nih… kalau dasarnya sudah cinta, maka pengorbanan pun akan terasa sebagai kenikmatan. Iya, nggak?
Hedging Sebagai Pengganti Stop Loss
Di artikel sebelumnya, kita sudah membahas mengenai pentingnya Stop Loss dan pertimbangan-pertimbangan untuk menentukan berapa point sebaiknya Stop Loss ditentukan. Namun demikian, banyak juga trader yang masih juga kurang nyaman dengan Stop Loss yang bersifat “kaku”. Kebanyakan masih menganggap Stop Loss konvensional seperti ini masih terlalu kaku untuk mengantisipasi gejolak yang terjadi di market. Nah, bagi temen-temen trader yang masih menganggap Stop Loss konvensional ini terlalu kaku, saya sarankan untuk mencoba alternatif lain untuk membatasi kerugian, yaitu menggunakan Hedging.
Hedging di sini maksudnya kita membuka posisi Buy dan Sell secara bersamaan atau tanpa meng-close salah satu posisi. Menggunakan Hedging sebagai Stop Loss bisa dilakukan dengan dua cara.
#1. Instant Execution
Maksudnya, kita membuka posisi baru yang berlawanan dengan posisi kita yang sedang terfloating minus di mata uang yang sama dan tanpa meng-close dahulu posisi yang minus tadi. Cara ini digunakan untuk mengunci posisi yang sedang floating minus.
Contoh: Kita open order Buy EUR/USD di posisi 1.3000 dan kemudian ternyata kita menderita loss hingga 50 point (turun ke 1.2950) kemudian di posisi 1.2950 tersebut kita kunci (Hedging) dengan cara open order Sell baru di 1.2950 pada EUR/USD lagi. Sehingga dengan cara ini maka loss kita akan tetap floating -50 point terus, sampai nanti salah satu atau kedua posisi Hedging tersebut kita close. Jadi meskipun harganya turun terus ke arah 1.2500 pun posisi loss kita tetap -50 point.
#2. Pending Order
Maksudnya, kita memasang pending order pada harga tertentu sebagai pelindung dari sebuah posisi yang kita ambil, sehingga kalaupun harga bergerak diluar prediksi kita pada saat kita tidak sedang memantau chart, pending order akan otomatis aktif untuk melindungi kerugian atas posisi yang telah kita ambil tadi.
Contoh: Kita open order Buy EUR/USD di posisi 1.3000 kemudian kita memasang pending order (Sell Stop) di posisi 1.2950 pada EUR/USD juga. Dengan cara ini apabila harga ternyata bergerak turun, maka pending order akan otomatis aktif dan membatasi kerugian atas posisi pertama tadi.
Pengganti Stop Loss
Masalahnya, bagaimana cara kita menentukan di posisi berapa kita memasang pending order? Kalau saran saya sih, karena Hedging ini kita maksudkan sebagai pengganti Stop Loss, maka pertimbangan untuk menentukan di posisi berapa kita memasang pending order ya kurang lebihnya sama dengan pertimbangan kita dalam menentukan Stop Loss konvensional. Silahkan simak di artikel terdahulu tentang Stop Loss.
Kelemahan Hedging Sebagai Pengganti Stop Loss
Cara hedging sebagai pengganti Stop Loss ini memang mempunyai kelemahan dari sisi psikologis, terutama untuk trader yang belum begitu berpengalaman. Biasanya kita akan ragu-ragu untuk menutup salah satu posisi yang positif, karena khawatir begitu posisi hedging kita close, ternyata trend terus berlanjut sehingga posisi yang masih terbuka semakin bertambah minusnya tanpa ada pelindung lagi. Sedangkan apabila kita meng-hold posisi yang positif, khawatir kalau-kalau trend tiba-tiba berbalik sehingga malahan kita jadi punya koleksi floating negatif deh.
Ada saran dari salah seorang temen trader yang biasa menggunakan cara hedging sebagai pengganti Stop Loss mengenai kapan kita menutup posisi hedging tersebut: sebaiknya posisi hedging tidak usah dipasang TP. Konsekuensinya, kita harus telaten scalping untuk posisi tersebut. Maksudnya, kita pantau terus pergerakan harga, begitu kita rasa trend mulai berbalik arah, segera close posisi yang positif.
Kalaupun ternyata trend masih berlanjut, buka posisi lagi, demikian seterusnya. Memang kita akan rugi spread, tapi masih mendinglah kita bisa mengambil manfaat dari pergerakan harga, daripada cuma harap-harap cemas melihat loss dari posisi yang “terlanjur” kita ambil. Cara hedging sebagai pengganti Stop Loss ini memang tidak disarankan untuk trader pemula, namun demikian bisa menjadi alternatif bagi trader yang tidak menginginkan Stop Loss yang sifatnya kaku.
Alternatif manapun yang akan kita pilih, sebaiknya disesuaikan dengan “situasi dan kondisi” kita. Artinya, kita harus merasa nyaman dengan apapun keputusan yang kita ambil pada saat trading. Saran utama saya sih, enjoy your trade. Nikmati setiap proses dalam ber-trading. Jangan sampai trading hanya menghasilkan “penyakit”. Sudah menghabiskan waktu, tenaga, biaya, masih plus jantungan pula.
Hedging di sini maksudnya kita membuka posisi Buy dan Sell secara bersamaan atau tanpa meng-close salah satu posisi. Menggunakan Hedging sebagai Stop Loss bisa dilakukan dengan dua cara.
#1. Instant Execution
Maksudnya, kita membuka posisi baru yang berlawanan dengan posisi kita yang sedang terfloating minus di mata uang yang sama dan tanpa meng-close dahulu posisi yang minus tadi. Cara ini digunakan untuk mengunci posisi yang sedang floating minus.
Contoh: Kita open order Buy EUR/USD di posisi 1.3000 dan kemudian ternyata kita menderita loss hingga 50 point (turun ke 1.2950) kemudian di posisi 1.2950 tersebut kita kunci (Hedging) dengan cara open order Sell baru di 1.2950 pada EUR/USD lagi. Sehingga dengan cara ini maka loss kita akan tetap floating -50 point terus, sampai nanti salah satu atau kedua posisi Hedging tersebut kita close. Jadi meskipun harganya turun terus ke arah 1.2500 pun posisi loss kita tetap -50 point.
#2. Pending Order
Maksudnya, kita memasang pending order pada harga tertentu sebagai pelindung dari sebuah posisi yang kita ambil, sehingga kalaupun harga bergerak diluar prediksi kita pada saat kita tidak sedang memantau chart, pending order akan otomatis aktif untuk melindungi kerugian atas posisi yang telah kita ambil tadi.
Contoh: Kita open order Buy EUR/USD di posisi 1.3000 kemudian kita memasang pending order (Sell Stop) di posisi 1.2950 pada EUR/USD juga. Dengan cara ini apabila harga ternyata bergerak turun, maka pending order akan otomatis aktif dan membatasi kerugian atas posisi pertama tadi.
Pengganti Stop Loss
Masalahnya, bagaimana cara kita menentukan di posisi berapa kita memasang pending order? Kalau saran saya sih, karena Hedging ini kita maksudkan sebagai pengganti Stop Loss, maka pertimbangan untuk menentukan di posisi berapa kita memasang pending order ya kurang lebihnya sama dengan pertimbangan kita dalam menentukan Stop Loss konvensional. Silahkan simak di artikel terdahulu tentang Stop Loss.
Kelemahan Hedging Sebagai Pengganti Stop Loss
Cara hedging sebagai pengganti Stop Loss ini memang mempunyai kelemahan dari sisi psikologis, terutama untuk trader yang belum begitu berpengalaman. Biasanya kita akan ragu-ragu untuk menutup salah satu posisi yang positif, karena khawatir begitu posisi hedging kita close, ternyata trend terus berlanjut sehingga posisi yang masih terbuka semakin bertambah minusnya tanpa ada pelindung lagi. Sedangkan apabila kita meng-hold posisi yang positif, khawatir kalau-kalau trend tiba-tiba berbalik sehingga malahan kita jadi punya koleksi floating negatif deh.
Ada saran dari salah seorang temen trader yang biasa menggunakan cara hedging sebagai pengganti Stop Loss mengenai kapan kita menutup posisi hedging tersebut: sebaiknya posisi hedging tidak usah dipasang TP. Konsekuensinya, kita harus telaten scalping untuk posisi tersebut. Maksudnya, kita pantau terus pergerakan harga, begitu kita rasa trend mulai berbalik arah, segera close posisi yang positif.
Kalaupun ternyata trend masih berlanjut, buka posisi lagi, demikian seterusnya. Memang kita akan rugi spread, tapi masih mendinglah kita bisa mengambil manfaat dari pergerakan harga, daripada cuma harap-harap cemas melihat loss dari posisi yang “terlanjur” kita ambil. Cara hedging sebagai pengganti Stop Loss ini memang tidak disarankan untuk trader pemula, namun demikian bisa menjadi alternatif bagi trader yang tidak menginginkan Stop Loss yang sifatnya kaku.
Alternatif manapun yang akan kita pilih, sebaiknya disesuaikan dengan “situasi dan kondisi” kita. Artinya, kita harus merasa nyaman dengan apapun keputusan yang kita ambil pada saat trading. Saran utama saya sih, enjoy your trade. Nikmati setiap proses dalam ber-trading. Jangan sampai trading hanya menghasilkan “penyakit”. Sudah menghabiskan waktu, tenaga, biaya, masih plus jantungan pula.
Stop Loss dan Limit
Artikel singkat ini akan membantu Anda bagaimana menempatkan "pagar" dalam posisi Anda sehingga resiko yang mungkin terjadi dapat dibatasi sejauh kita mau. Begitu juga dengan profit yang diperoleh dapat kita batasi. Alasan mengapa kita membatasi profit disini adalah karena sifat dari mata uang itu sendiri yang sangat volatile/ berfluktuasi sehingga bisa saja posisi kita yang sekarang mengalami keuntungan berubah menjadi merugi karena nila tukar sudah bergerak berbalik arah dari yang kita inginkan.
Sekarang bayangkan apabila Anda seorang karyawan kantoran dan juga berinvestasi dalam forex trading. Katakanlah Anda bertrading pada malam hari dan di siang harinya Anda harus bekerja dan tidak dapat memantau posisi trading Anda. Bagaimana apabila ketika kita tidak sedang memantau posisi trading kita kemudian harga bergerak berlawanan dengan posisi kita bahkan bergerak berlawanan terlalu jauh. Bisa-bisa terjadi margincall (ditutupnya posisi dalam keadaan merugi karena kurangnya margin jaminan). Tentu saja hal ini sangat tidak kita inginkan.
Itulah sebabnya disediakan fasilitas "pagar" atau batas dalam platform forex trading manapun. Gunanya untuk mencegah keadaan yang tidak terprediksi mempengaruhi portfolio trading kita terlalu jauh. Kedua batas yang dimaksud diistilahkan dengan Stop Lossdan Limit.
Stop merupakan batas kerugian yang bersedia kita tanggung sedangkan Limit merupakan batas target keuntungan yang hendak kita ambil.
Misal Anda sudah membuka posisi Buy GBPUSD pada harga 1.4150.
Stop Loss ideal adalah 1.4120. (misal Anda hanya ingin menanggung kerugian 30 poin saja).
Take Profit ideal adalaj 1.4190 (misal Anda hanya ingin mendapat keuntungan/profit 40 poin saja).
Contoh untuk Open Sell :
Sell USDJPY di 108.60
Contoh Stop Loss adalah di 108.90 & Take profit 108.20.
Sekarang bayangkan apabila Anda seorang karyawan kantoran dan juga berinvestasi dalam forex trading. Katakanlah Anda bertrading pada malam hari dan di siang harinya Anda harus bekerja dan tidak dapat memantau posisi trading Anda. Bagaimana apabila ketika kita tidak sedang memantau posisi trading kita kemudian harga bergerak berlawanan dengan posisi kita bahkan bergerak berlawanan terlalu jauh. Bisa-bisa terjadi margincall (ditutupnya posisi dalam keadaan merugi karena kurangnya margin jaminan). Tentu saja hal ini sangat tidak kita inginkan.
Itulah sebabnya disediakan fasilitas "pagar" atau batas dalam platform forex trading manapun. Gunanya untuk mencegah keadaan yang tidak terprediksi mempengaruhi portfolio trading kita terlalu jauh. Kedua batas yang dimaksud diistilahkan dengan Stop Lossdan Limit.
Stop merupakan batas kerugian yang bersedia kita tanggung sedangkan Limit merupakan batas target keuntungan yang hendak kita ambil.
Misal Anda sudah membuka posisi Buy GBPUSD pada harga 1.4150.
Stop Loss ideal adalah 1.4120. (misal Anda hanya ingin menanggung kerugian 30 poin saja).
Take Profit ideal adalaj 1.4190 (misal Anda hanya ingin mendapat keuntungan/profit 40 poin saja).
Contoh untuk Open Sell :
Sell USDJPY di 108.60
Contoh Stop Loss adalah di 108.90 & Take profit 108.20.
5 Kunci Penting Membaca Chart
Mempelajari keterampilan dasar forex seperti cara membaca chart (grafik) merupakan hal yang benar-benar penting dalam trading forex. Kemampuan membaca chart dianggap berharga, karena memudahkan Anda untuk menganalisis dan mempraktekkan sistem trading forex yang sebenarnya.
Berikut adalah 5 hal penting yang perlu Anda perhatikan:
#1. Sesuaikan pola pergerakan harga dengan jenis order yang akan Anda lakukan.
Jika ingin melakukan buy, fokuskan pada mata uang mana yang chart-nya sedang mengalami kenaikan. Sebaliknya, jika ingin sell, carilah mata uang yang chart-nya sedang dalam posisi menurun.
#2. Selalu cek dan cek kembali time frame yang berlaku pada saat anda melakukan trading.
Banyak sistem trading yang menggunakan time frame berbeda. Contohnya, sistem trading tertentu mungkin menggunakan chart 4 jam dan 30 menit, untuk menentukan keseluruhan tren mata uang dengan menggunakan beberapa indikator, seperti MACD, momentum, serta level support dan resistance. Kemudian, sistem ini juga menggunakan chart 5 menit untuk melihat proses kenaikan mata uang yang terjadi selama trading berlangsung. Oleh karena itu, pastikan chart yang Anda butuhkan berada pada time frame yang sama dengan analisis Anda. Anda juga bisa fokus pada 1 time frame saja, sehingga proses trading bisa lebih terarah.
#3. Lihat Spread yang berlaku pada saat Anda melakukan trading.
Hal ini merupakan faktor penentu, apakah Take profit dapat tereksekusi dengan benar atau tidak. Karena, pada saat open buy, harga akan berada di daerah bid, sebaliknya pada saat open sell, harga akan menggunakan daerah ask.
#4. Sadarilah mengenai zona waktu yang ditampilkan pada bagian bawah grafik Forex.
Biasanya, grafik forex diatur berdasarkan zona waktu tertentu, misalnya waktu GMT, waktu New York, ataupun zona waktu lainnya.
Masalah yang sering terjadi dalam membaca chart forex adalah bagaimana cara membedakan waktu lokal Anda dengan waktu server pada saat mengikuti pengumuman berita. Untuk itu, Anda harus mengubah waktu pengumuman ke waktu lokal Anda, sehingga Anda akan tahu kapan pengumuman akan terjadi.
#5. Langkah terakhir adalah periksa grafik forex Anda, pakah sudah sesuai dengan candle atau belum.
Biasanya, trader sering tidak menyadari kalau internet yang sedang digunakan tidak terhubung, dan baru tersadar setelah harga terlanjur bergerak jauh. Untuk itu, jangan lupa untuk selalu memeriksa jaringan Anda terlebih dahulu.
Nah, Anda sekarang sudah memiliki 5 kunci penting dalam membaca grafik forex. Dimana kelima hal tersebut akan membantu Anda untuk menghindari kesalahan-kesalahan umum, khususnya bagi trader yang masih pemula.
Berikut adalah 5 hal penting yang perlu Anda perhatikan:
#1. Sesuaikan pola pergerakan harga dengan jenis order yang akan Anda lakukan.
Jika ingin melakukan buy, fokuskan pada mata uang mana yang chart-nya sedang mengalami kenaikan. Sebaliknya, jika ingin sell, carilah mata uang yang chart-nya sedang dalam posisi menurun.
#2. Selalu cek dan cek kembali time frame yang berlaku pada saat anda melakukan trading.
Banyak sistem trading yang menggunakan time frame berbeda. Contohnya, sistem trading tertentu mungkin menggunakan chart 4 jam dan 30 menit, untuk menentukan keseluruhan tren mata uang dengan menggunakan beberapa indikator, seperti MACD, momentum, serta level support dan resistance. Kemudian, sistem ini juga menggunakan chart 5 menit untuk melihat proses kenaikan mata uang yang terjadi selama trading berlangsung. Oleh karena itu, pastikan chart yang Anda butuhkan berada pada time frame yang sama dengan analisis Anda. Anda juga bisa fokus pada 1 time frame saja, sehingga proses trading bisa lebih terarah.
#3. Lihat Spread yang berlaku pada saat Anda melakukan trading.
Hal ini merupakan faktor penentu, apakah Take profit dapat tereksekusi dengan benar atau tidak. Karena, pada saat open buy, harga akan berada di daerah bid, sebaliknya pada saat open sell, harga akan menggunakan daerah ask.
#4. Sadarilah mengenai zona waktu yang ditampilkan pada bagian bawah grafik Forex.
Biasanya, grafik forex diatur berdasarkan zona waktu tertentu, misalnya waktu GMT, waktu New York, ataupun zona waktu lainnya.
Masalah yang sering terjadi dalam membaca chart forex adalah bagaimana cara membedakan waktu lokal Anda dengan waktu server pada saat mengikuti pengumuman berita. Untuk itu, Anda harus mengubah waktu pengumuman ke waktu lokal Anda, sehingga Anda akan tahu kapan pengumuman akan terjadi.
#5. Langkah terakhir adalah periksa grafik forex Anda, pakah sudah sesuai dengan candle atau belum.
Biasanya, trader sering tidak menyadari kalau internet yang sedang digunakan tidak terhubung, dan baru tersadar setelah harga terlanjur bergerak jauh. Untuk itu, jangan lupa untuk selalu memeriksa jaringan Anda terlebih dahulu.
Nah, Anda sekarang sudah memiliki 5 kunci penting dalam membaca grafik forex. Dimana kelima hal tersebut akan membantu Anda untuk menghindari kesalahan-kesalahan umum, khususnya bagi trader yang masih pemula.
Overbought Dan Oversold
Apakah Anda pernah mendengar analis yang berkata, "AUDUSD sedang overbought dan karena itu sebentar lagi akan mengalami koreksi" atau "EURNZD sedang oversold dan karena itu akan bouncing"? Apakah Anda mengetahui maksud pernyataan tersebut?
Istilah "Overbought" dan "Oversold" digunakan untuk menggambarkan kondisi pasar yang diukur dengan indikator teknikal jenis osilator atau oscillator. Osilator adalah sebuah indikator momentum yang digunakan untuk mengukur harga dengan cara membandingkan harga pair mata uang dan harga historisnya dalam periode waktu tertentu. Dua contoh osilator yang sudah populer di antara para trader adalah Stochastics dan RSI.
Skala kedua indikator tersebut berada di kisaran 0 sampai 100. Ketika Stochastics mencapai tingkat 80, market dianggap overbought. Dan ketika Stochastics mencapai tingkat 20, market dianggap oversold. Sedangkan untuk RSI, nilai overbought adalah 70, sementara oversold berada di level 30. Ide dasarnya adalah ketika market mencapai titik over, kemungkinan terjadinya pembalikan menjadi semakin besar.
Namun satu hal yang harus diingat adalah, ketika harga sudah mencapai area over, bukan berarti pembalikan akan secepatnya terjadi. Pembalikan memang akan terjadi, tapi kapan tepatnya belum bisa diprediksi secara pasti oleh osilator. Market yang berada dalam uptrend kuat akan tetap berada dalam kondisi overbought untuk jangka waktu yang lama. Sebaliknya, market yang berada dalam downtrend kuat akan tetap berada dalam kondisi oversold untuk jangka waktu lama. Dengan kata lain, osilator memiliki nilai yang lebih terbatas ketika trending daripada ketika sideway.
Ketika harga market cenderung menurun dan osilator bergerak naik menuju overbought, pembalikan sulit terjadi. Sebaliknya, ketika market berada dalam uptrend dan osilator bergerak ke oversold, pembalikan lebih mungkin terjadi. Berikut ini adalah contoh penggunaan grafik harian EURCAD. Nilai 15,5,5 juga diplot pada grafik yang menggunakan Stochastics Low.
Anda dapat melihat bahwa ketika market berada dalam downtrend, indikator Stochastics bekerja lebih lama daripada ketika dalam kondisi oversold. Oversold biasanya terjadi dalam market yang mengalami downtrending kuat. Demikian juga halnya ketika Stochastics bergerak naik ke kondisi overbought, market cenderung membalikkan harga dan bergerak ke arah tren yang baru.
Ini adalah salah satu cara bagaimana trader menggunakan indikator untuk mengidentifikasi peluang trading. Kunci dari ilustrasi di atas adalah market cenderung menurun. Setelah itu, kita tinggal mencari sinyal jual yang bergerak turun dari titik 80 pada Stochastics Low.
Jika market berada dalam kondisi uptrend, maka yang dicari oleh trader adalah titik oversold pada daerah 20. Jadi, sementara osilator bermanfaat untuk mengidentifikasi peluang trading saat tren dan arah pada indikator memiliki kecenderungan yang sama, maka kemungkinan besar sinyal yang diberikan adalah valid.
Istilah "Overbought" dan "Oversold" digunakan untuk menggambarkan kondisi pasar yang diukur dengan indikator teknikal jenis osilator atau oscillator. Osilator adalah sebuah indikator momentum yang digunakan untuk mengukur harga dengan cara membandingkan harga pair mata uang dan harga historisnya dalam periode waktu tertentu. Dua contoh osilator yang sudah populer di antara para trader adalah Stochastics dan RSI.
Skala kedua indikator tersebut berada di kisaran 0 sampai 100. Ketika Stochastics mencapai tingkat 80, market dianggap overbought. Dan ketika Stochastics mencapai tingkat 20, market dianggap oversold. Sedangkan untuk RSI, nilai overbought adalah 70, sementara oversold berada di level 30. Ide dasarnya adalah ketika market mencapai titik over, kemungkinan terjadinya pembalikan menjadi semakin besar.
Namun satu hal yang harus diingat adalah, ketika harga sudah mencapai area over, bukan berarti pembalikan akan secepatnya terjadi. Pembalikan memang akan terjadi, tapi kapan tepatnya belum bisa diprediksi secara pasti oleh osilator. Market yang berada dalam uptrend kuat akan tetap berada dalam kondisi overbought untuk jangka waktu yang lama. Sebaliknya, market yang berada dalam downtrend kuat akan tetap berada dalam kondisi oversold untuk jangka waktu lama. Dengan kata lain, osilator memiliki nilai yang lebih terbatas ketika trending daripada ketika sideway.
Ketika harga market cenderung menurun dan osilator bergerak naik menuju overbought, pembalikan sulit terjadi. Sebaliknya, ketika market berada dalam uptrend dan osilator bergerak ke oversold, pembalikan lebih mungkin terjadi. Berikut ini adalah contoh penggunaan grafik harian EURCAD. Nilai 15,5,5 juga diplot pada grafik yang menggunakan Stochastics Low.
Anda dapat melihat bahwa ketika market berada dalam downtrend, indikator Stochastics bekerja lebih lama daripada ketika dalam kondisi oversold. Oversold biasanya terjadi dalam market yang mengalami downtrending kuat. Demikian juga halnya ketika Stochastics bergerak naik ke kondisi overbought, market cenderung membalikkan harga dan bergerak ke arah tren yang baru.
Ini adalah salah satu cara bagaimana trader menggunakan indikator untuk mengidentifikasi peluang trading. Kunci dari ilustrasi di atas adalah market cenderung menurun. Setelah itu, kita tinggal mencari sinyal jual yang bergerak turun dari titik 80 pada Stochastics Low.
Jika market berada dalam kondisi uptrend, maka yang dicari oleh trader adalah titik oversold pada daerah 20. Jadi, sementara osilator bermanfaat untuk mengidentifikasi peluang trading saat tren dan arah pada indikator memiliki kecenderungan yang sama, maka kemungkinan besar sinyal yang diberikan adalah valid.
Cara Trading Dengan Sinyal Death Cross Atau Golden Cross
Dalam trading forex kita sudah mengenal istilah scalping, daily trading maupun swing. Untuk kasus trading menggunakan sinyal moving average death cross maupun golden cross, teknik scalping kurang bagus apabila menggunakan sistem ini. Karena sinyal dari perpotongan indikator moving average ini lebih bersifat lamban dan lebih bagus kalau diterapkan untuk strategi daily trading atau swing.
Perpotongan indikator moving average yang dimaksudkan disini adalah perpotongan antara indikator moving average periode panjang dengan periode yang lebih pendek. Semisal dalam kasus yang akan kita bahas ini, saya menggunakan perpotongan antara Eksponensial Moving Average (EMA) 8 dan (EMA) 21. Untuk nilai periode itu sendiri bisa kalian modifikasi berdasarkan pengalaman masing-masing yang penting mampu memberikan sinyal yang lebih baik.
Sebelum kita belajar tentang teknik death cross maupun golden cross. Sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu death cross dan golden cross.
Apa itu death cross?
Death cross adalah sebuah sinyal penurunan atau downtrend yang dihasilkan dari perpotongan antara moving average periode panjang dan periode pendek dengan posisi indikator moving average periode panjang berada diatas periode pendek.
Apa itu golden cross?
Golden cross adalah kebalikan dari posisi death cross yaitu perpotongan indikator moving average periode panjang dan periode pendek dengan posisi indikator moving average periode panjang berada di bawah periode pendek. Sinyal yang dihasilkan dari posisi golden cross sendiri adalah momen naik atau uptrend dari suatu pergerakan pertukaran mata uang.
Sinyal death cross dan golden cross memang sangat mudah untuk dikenali, begitu terjadi perpotongan antara moving average periode pendek dan panjang maka momen death cross atau golden cross telah terjadi. Namun dalam kondisi real dalam trading forex sinyal tersebut kadang masih bersifat semu karena ada kemungkinan harga kembali naik atau turun sehingga sinyal yang dihasilkan kurang begitu valid.
Untuk menghindari kesalahan sinyal dari momen death cross maupun golden cross sendiri, kita bisa memakai alat bantu yaitu level-level support dan resistance untuk mempertegas arah pergerakan harga.
Kenapa kita butuh level tersebut?
Seperti kita ketahui bahwa cara kerja indikator yang ada selama ini bersifat sebagai sinyal awal atau tanda-tanda awal tentang sebuah pergerakan. Sedangkan level support dan resistance adalah sebagai pagar pembatas yang akan menjadi alat penegasan sebuah trend pergerakan harga.
Ketika harga tidak berhasil menembus support maka harga akan kembali ke atas dan jika harga tidak berhasil menembus resistance maka harga akan kembali turun. Hal-hal inilah yang menjadi alasan kenapa sistem death cross atau golden cross ini tidak cocok untuk sistem scalping.
Untuk lebih jelas tentang pembahasan kita kali ini, saya sudah mempersiapkan gambar khusus untuk menjelaskan kasus ini.
cara trading forex; sinyal death cross; sinyal golden cross;
Coba kita perhatikan sekarang pada gambar di samping, dalam gambar tersebut nila EMA 8 berwarna merah dan EMA 21 berwarna biru. Kalau kita jeli mengamati sebuah pergerakan yang terjadi, disitu terlihat bahwa momen death cross dan golden cross akan menjadi valid ketika sudah melewati level-level support maupun resistance.
Dari gambar tersebut level support dan resistance berada pada area yang ditandai dengan munculnya lingkaran merah kecil. Coba kita perhatikan lebih detail lagi bahwa ketika harga sudah terjadi death cross maupun golden cross namun tidak berhasil menembus support maupun resistance maka sinyal tadi menjadi mentah kembali. Hal ini yang juga menjadi alasan kenapa sistem ini lebih cocok dipakai untuk daily trading maupun swing.
Kesalahan yang sering terjadi dalam trading forex adalah memaksakan sinyal ini untuk trading dalam jangka pendek sehingga ketika harga terpantul muncul kecemasan karena takut terkena stop loss atau harga berbalik arah lebih jauh.
Maka dari itu untuk mengurangi kesalahan dalam membaca sinyal tersebut perlu memperhatikan rambu-rambu tadi seperti support dan resistance. Kemudian karena trading ini bersifat daily trading atau swing maka kekuatan trading tersebut berada pada nila batas resiko atau stop loss.
Kenapa nilai stop loss yang paling penting?
Hal yang perlu ditekankan sebagai pemain daily trading atau swing adalah jangan terlalu memperhatikan bentuk candlestick satu demi satu ketika open posisi sudah terjadi. Karena hal tersebut akan membuat kecemasan yang luar biasa dan bisa berbuntut pada cut loss dan kerugian.
Langkah awal yang baik adalah menentukan nilai resiko yang sudah pasti siap untuk ditanggung. Bisnis ini layaknya bisnis real yang harus mengeluarkan modal dan siap untuk rugi maupun untung. Namun tentu saja tujuan dan harapan kita tetap pada keuntungan yang lebih banyak.
Nilai resiko tersebut bisa diatur dengan menghitung jarak antara open posisi dengan area ideal stop loss dan menyesuaikan besaran lot yang dipakai. Hal tersebut pernah saya bahas dalam mengatur sebuah money management.
Kemudian setelah open posisi apa yang harus kita lakukan?
Pertama yang harus dilakukan adalah meninggalkan layar metatrader, karena daily trading atau swing pasti membutuhkan waktu untuk setup harga dan bergerak sesuai dengan prediksi. Apabila kita tetap terpaku di layar komputer berjam-jam maka emosi atau psikologi kita akan tertekan dan akhirnya justru melakukan kesalahan yang tidak perlu. Ingat, kita sudah mengatur nilai kerugian yang siap untuk di tanggung, ini bisnis!.
Kemudian jangan memperhatikan bentuk candlestick satu persatu dalam timeframe yang kecil semisal H1 ke bawah. Sebaiknya kita melihat dalam periode lebih lama yaitu H4 ke atas, agar analisis kita lebih akurat dalam membaca pergerakan harga.
Perhatikan momen-momen fundamental yang berpengaruh, namun jangan terlalu panik ketika data fundamental tidak begitu menggembirakan karena sifat fundamental adalah sementara dan yang kita lakukan adalah daily trading atau swing.
Nah, poin yang terpenting yang perlu dipahami bahwa psikologi market cenderung lebih dominan dibanding berita-berita fundamental yang bersifat sementara. Hal ini bisa dipahami bahwa psikologi market dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah pelaku pasar yang melakukan buy atau sell. Ketika sebagian besar melakukan buy maka harga akan naik dan sebaliknya.
Memang betul kadang psikologi market sangat dipengaruhi oleh berita fundamental, tetapi itu dalam range waktu yang tidak terlalu lama. Sebagai contoh jika hari ini USD bagus maka EURUSD akan turun dan jika besok USD jelek maka EURUSD akan naik.
Namun dalam kerangka waktu yang lebih lama atau cara pandang yang lebih lebar maka momen naik turun tadi menjadi bersifat sementara dan pergerakan tetap memiliki trend yang dipengaruhi oleh psikologi market dan pada titik tertentu psikologi tersebut menemukan titik jenuh sehingga harga kembali koreksi atau berbalik arah.
Kemudian dari mana kita tahu sebagian besar pelaku pasar melakukan buy atau sell? Yaitu dengan momen break out atau tertembusnya level support atau resistance.
Ketika support berhasil tertembus maka psikologi market sedang dominan untuk melakukan sell, dengan pengaruh ini maka orang mulai berbondong-bondong untuk ikut melakukan sell sehingga harga akan jatuh lebih dalam begitu juga sebaliknya untuk momen penembusan resistance. Hal ini yang menjadi alasan kenapa sinyal death cross dan golden cross akan lebih akurat jika dipadukan dengan sinyal break out pada level support dan resistance.
Hal ini memang kadang sulit dipahami apalagi kalau kita sering bermain scalping, namun dengan berlatih secara swing atau daily trading, maka kita bisa lebih mengerti bagaimana trend, support dan resistance, psikologi market, fundamental itu menjadi satu kesatuan yang berpengaruh pada sebuah pergerakan harga.
Perpotongan indikator moving average yang dimaksudkan disini adalah perpotongan antara indikator moving average periode panjang dengan periode yang lebih pendek. Semisal dalam kasus yang akan kita bahas ini, saya menggunakan perpotongan antara Eksponensial Moving Average (EMA) 8 dan (EMA) 21. Untuk nilai periode itu sendiri bisa kalian modifikasi berdasarkan pengalaman masing-masing yang penting mampu memberikan sinyal yang lebih baik.
Sebelum kita belajar tentang teknik death cross maupun golden cross. Sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu death cross dan golden cross.
Apa itu death cross?
Death cross adalah sebuah sinyal penurunan atau downtrend yang dihasilkan dari perpotongan antara moving average periode panjang dan periode pendek dengan posisi indikator moving average periode panjang berada diatas periode pendek.
Apa itu golden cross?
Golden cross adalah kebalikan dari posisi death cross yaitu perpotongan indikator moving average periode panjang dan periode pendek dengan posisi indikator moving average periode panjang berada di bawah periode pendek. Sinyal yang dihasilkan dari posisi golden cross sendiri adalah momen naik atau uptrend dari suatu pergerakan pertukaran mata uang.
Sinyal death cross dan golden cross memang sangat mudah untuk dikenali, begitu terjadi perpotongan antara moving average periode pendek dan panjang maka momen death cross atau golden cross telah terjadi. Namun dalam kondisi real dalam trading forex sinyal tersebut kadang masih bersifat semu karena ada kemungkinan harga kembali naik atau turun sehingga sinyal yang dihasilkan kurang begitu valid.
Untuk menghindari kesalahan sinyal dari momen death cross maupun golden cross sendiri, kita bisa memakai alat bantu yaitu level-level support dan resistance untuk mempertegas arah pergerakan harga.
Kenapa kita butuh level tersebut?
Seperti kita ketahui bahwa cara kerja indikator yang ada selama ini bersifat sebagai sinyal awal atau tanda-tanda awal tentang sebuah pergerakan. Sedangkan level support dan resistance adalah sebagai pagar pembatas yang akan menjadi alat penegasan sebuah trend pergerakan harga.
Ketika harga tidak berhasil menembus support maka harga akan kembali ke atas dan jika harga tidak berhasil menembus resistance maka harga akan kembali turun. Hal-hal inilah yang menjadi alasan kenapa sistem death cross atau golden cross ini tidak cocok untuk sistem scalping.
Untuk lebih jelas tentang pembahasan kita kali ini, saya sudah mempersiapkan gambar khusus untuk menjelaskan kasus ini.
cara trading forex; sinyal death cross; sinyal golden cross;
Coba kita perhatikan sekarang pada gambar di samping, dalam gambar tersebut nila EMA 8 berwarna merah dan EMA 21 berwarna biru. Kalau kita jeli mengamati sebuah pergerakan yang terjadi, disitu terlihat bahwa momen death cross dan golden cross akan menjadi valid ketika sudah melewati level-level support maupun resistance.
Dari gambar tersebut level support dan resistance berada pada area yang ditandai dengan munculnya lingkaran merah kecil. Coba kita perhatikan lebih detail lagi bahwa ketika harga sudah terjadi death cross maupun golden cross namun tidak berhasil menembus support maupun resistance maka sinyal tadi menjadi mentah kembali. Hal ini yang juga menjadi alasan kenapa sistem ini lebih cocok dipakai untuk daily trading maupun swing.
Kesalahan yang sering terjadi dalam trading forex adalah memaksakan sinyal ini untuk trading dalam jangka pendek sehingga ketika harga terpantul muncul kecemasan karena takut terkena stop loss atau harga berbalik arah lebih jauh.
Maka dari itu untuk mengurangi kesalahan dalam membaca sinyal tersebut perlu memperhatikan rambu-rambu tadi seperti support dan resistance. Kemudian karena trading ini bersifat daily trading atau swing maka kekuatan trading tersebut berada pada nila batas resiko atau stop loss.
Kenapa nilai stop loss yang paling penting?
Hal yang perlu ditekankan sebagai pemain daily trading atau swing adalah jangan terlalu memperhatikan bentuk candlestick satu demi satu ketika open posisi sudah terjadi. Karena hal tersebut akan membuat kecemasan yang luar biasa dan bisa berbuntut pada cut loss dan kerugian.
Langkah awal yang baik adalah menentukan nilai resiko yang sudah pasti siap untuk ditanggung. Bisnis ini layaknya bisnis real yang harus mengeluarkan modal dan siap untuk rugi maupun untung. Namun tentu saja tujuan dan harapan kita tetap pada keuntungan yang lebih banyak.
Nilai resiko tersebut bisa diatur dengan menghitung jarak antara open posisi dengan area ideal stop loss dan menyesuaikan besaran lot yang dipakai. Hal tersebut pernah saya bahas dalam mengatur sebuah money management.
Kemudian setelah open posisi apa yang harus kita lakukan?
Pertama yang harus dilakukan adalah meninggalkan layar metatrader, karena daily trading atau swing pasti membutuhkan waktu untuk setup harga dan bergerak sesuai dengan prediksi. Apabila kita tetap terpaku di layar komputer berjam-jam maka emosi atau psikologi kita akan tertekan dan akhirnya justru melakukan kesalahan yang tidak perlu. Ingat, kita sudah mengatur nilai kerugian yang siap untuk di tanggung, ini bisnis!.
Kemudian jangan memperhatikan bentuk candlestick satu persatu dalam timeframe yang kecil semisal H1 ke bawah. Sebaiknya kita melihat dalam periode lebih lama yaitu H4 ke atas, agar analisis kita lebih akurat dalam membaca pergerakan harga.
Perhatikan momen-momen fundamental yang berpengaruh, namun jangan terlalu panik ketika data fundamental tidak begitu menggembirakan karena sifat fundamental adalah sementara dan yang kita lakukan adalah daily trading atau swing.
Nah, poin yang terpenting yang perlu dipahami bahwa psikologi market cenderung lebih dominan dibanding berita-berita fundamental yang bersifat sementara. Hal ini bisa dipahami bahwa psikologi market dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah pelaku pasar yang melakukan buy atau sell. Ketika sebagian besar melakukan buy maka harga akan naik dan sebaliknya.
Memang betul kadang psikologi market sangat dipengaruhi oleh berita fundamental, tetapi itu dalam range waktu yang tidak terlalu lama. Sebagai contoh jika hari ini USD bagus maka EURUSD akan turun dan jika besok USD jelek maka EURUSD akan naik.
Namun dalam kerangka waktu yang lebih lama atau cara pandang yang lebih lebar maka momen naik turun tadi menjadi bersifat sementara dan pergerakan tetap memiliki trend yang dipengaruhi oleh psikologi market dan pada titik tertentu psikologi tersebut menemukan titik jenuh sehingga harga kembali koreksi atau berbalik arah.
Kemudian dari mana kita tahu sebagian besar pelaku pasar melakukan buy atau sell? Yaitu dengan momen break out atau tertembusnya level support atau resistance.
Ketika support berhasil tertembus maka psikologi market sedang dominan untuk melakukan sell, dengan pengaruh ini maka orang mulai berbondong-bondong untuk ikut melakukan sell sehingga harga akan jatuh lebih dalam begitu juga sebaliknya untuk momen penembusan resistance. Hal ini yang menjadi alasan kenapa sinyal death cross dan golden cross akan lebih akurat jika dipadukan dengan sinyal break out pada level support dan resistance.
Hal ini memang kadang sulit dipahami apalagi kalau kita sering bermain scalping, namun dengan berlatih secara swing atau daily trading, maka kita bisa lebih mengerti bagaimana trend, support dan resistance, psikologi market, fundamental itu menjadi satu kesatuan yang berpengaruh pada sebuah pergerakan harga.
Langganan:
Postingan (Atom)