Jumat, 07 September 2018

Stop Loss dan Limit

Artikel singkat ini akan membantu Anda bagaimana menempatkan "pagar" dalam posisi Anda sehingga resiko yang mungkin terjadi dapat dibatasi sejauh kita mau. Begitu juga dengan profit yang diperoleh dapat kita batasi. Alasan mengapa kita membatasi profit disini adalah karena sifat dari mata uang itu sendiri yang sangat volatile/ berfluktuasi sehingga bisa saja posisi kita yang sekarang mengalami keuntungan berubah menjadi merugi karena nila tukar sudah bergerak berbalik arah dari yang kita inginkan.

Sekarang bayangkan apabila Anda seorang karyawan kantoran dan juga berinvestasi dalam forex trading. Katakanlah Anda bertrading pada malam hari dan di siang harinya Anda harus bekerja dan tidak dapat memantau posisi trading Anda. Bagaimana apabila ketika kita tidak sedang memantau posisi trading kita kemudian harga bergerak berlawanan dengan posisi kita bahkan bergerak berlawanan terlalu jauh. Bisa-bisa terjadi margincall (ditutupnya posisi dalam keadaan merugi karena kurangnya margin jaminan). Tentu saja hal ini sangat tidak kita inginkan.

Itulah sebabnya disediakan fasilitas "pagar" atau batas dalam platform forex trading manapun. Gunanya untuk mencegah keadaan yang tidak terprediksi mempengaruhi portfolio trading kita terlalu jauh. Kedua batas yang dimaksud diistilahkan dengan Stop Lossdan Limit.

Stop merupakan batas kerugian yang bersedia kita tanggung sedangkan Limit merupakan batas target keuntungan yang hendak kita ambil.

Misal Anda sudah membuka posisi Buy GBPUSD pada harga 1.4150.
Stop Loss ideal adalah 1.4120. (misal Anda hanya ingin menanggung kerugian 30 poin saja).
Take Profit ideal adalaj 1.4190 (misal Anda hanya ingin mendapat keuntungan/profit 40 poin saja).

Contoh untuk Open Sell :
Sell USDJPY di 108.60
Contoh Stop Loss adalah di 108.90 & Take profit 108.20.

5 Kunci Penting Membaca Chart

Mempelajari keterampilan dasar forex seperti cara membaca chart (grafik) merupakan hal yang benar-benar penting dalam trading forex. Kemampuan membaca chart dianggap berharga, karena memudahkan Anda untuk menganalisis dan mempraktekkan sistem trading forex yang sebenarnya.

Berikut adalah 5 hal penting yang perlu Anda perhatikan:

#1. Sesuaikan pola pergerakan harga dengan jenis order yang akan Anda lakukan.
Jika ingin melakukan buy, fokuskan pada mata uang mana yang chart-nya sedang mengalami kenaikan. Sebaliknya, jika ingin sell, carilah mata uang yang chart-nya sedang dalam posisi menurun.

#2. Selalu cek dan cek kembali time frame yang berlaku pada saat anda melakukan trading.
Banyak sistem trading yang menggunakan time frame berbeda. Contohnya, sistem trading tertentu mungkin menggunakan chart 4 jam dan 30 menit, untuk menentukan keseluruhan tren mata uang dengan menggunakan beberapa indikator, seperti MACD, momentum, serta level support dan resistance. Kemudian, sistem ini juga menggunakan chart 5 menit untuk melihat proses kenaikan mata uang yang terjadi selama trading berlangsung. Oleh karena itu, pastikan chart yang Anda butuhkan berada pada time frame yang sama dengan analisis Anda. Anda juga bisa fokus pada 1 time frame saja, sehingga proses trading bisa lebih terarah.

#3. Lihat Spread yang berlaku pada saat Anda melakukan trading.
Hal ini merupakan faktor penentu, apakah Take profit dapat tereksekusi dengan benar atau tidak. Karena, pada saat open buy, harga akan berada di daerah bid, sebaliknya pada saat open sell, harga akan menggunakan daerah ask.

#4. Sadarilah mengenai zona waktu yang ditampilkan pada bagian bawah grafik Forex.
Biasanya, grafik forex diatur berdasarkan zona waktu tertentu, misalnya waktu GMT, waktu New York, ataupun zona waktu lainnya.

Masalah yang sering terjadi dalam membaca chart forex adalah bagaimana cara membedakan waktu lokal Anda dengan waktu server pada saat mengikuti pengumuman berita. Untuk itu, Anda harus mengubah waktu pengumuman ke waktu lokal Anda, sehingga Anda akan tahu kapan pengumuman akan terjadi.

#5. Langkah terakhir adalah periksa grafik forex Anda, pakah sudah sesuai dengan candle atau belum.
Biasanya, trader sering tidak menyadari kalau internet yang sedang digunakan tidak terhubung, dan baru tersadar setelah harga terlanjur bergerak jauh. Untuk itu, jangan lupa untuk selalu memeriksa jaringan Anda terlebih dahulu.

Nah, Anda sekarang sudah memiliki 5 kunci penting dalam membaca grafik forex. Dimana kelima hal tersebut akan membantu Anda untuk menghindari kesalahan-kesalahan umum, khususnya bagi trader yang masih pemula.

Overbought Dan Oversold

Apakah Anda pernah mendengar analis yang berkata, "AUDUSD sedang overbought dan karena itu sebentar lagi akan mengalami koreksi" atau "EURNZD sedang oversold dan karena itu akan bouncing"? Apakah Anda mengetahui maksud pernyataan tersebut?

Istilah "Overbought" dan "Oversold" digunakan untuk menggambarkan kondisi pasar yang diukur dengan indikator teknikal jenis osilator atau oscillator. Osilator adalah sebuah indikator momentum yang digunakan untuk mengukur harga dengan cara membandingkan harga pair mata uang dan harga historisnya dalam periode waktu tertentu. Dua contoh osilator yang sudah populer di antara para trader adalah Stochastics dan RSI.

Skala kedua indikator tersebut berada di kisaran 0 sampai 100. Ketika Stochastics mencapai tingkat 80, market dianggap overbought. Dan ketika Stochastics mencapai tingkat 20, market dianggap oversold. Sedangkan untuk RSI, nilai overbought adalah 70, sementara oversold berada di level 30. Ide dasarnya adalah ketika market mencapai titik over, kemungkinan terjadinya pembalikan menjadi semakin besar.

Namun satu hal yang harus diingat adalah, ketika harga sudah mencapai area over, bukan berarti pembalikan akan secepatnya terjadi. Pembalikan memang akan terjadi, tapi kapan tepatnya belum bisa diprediksi secara pasti oleh osilator. Market yang berada dalam uptrend kuat akan tetap berada dalam kondisi overbought untuk jangka waktu yang lama. Sebaliknya, market yang berada dalam downtrend kuat akan tetap berada dalam kondisi oversold untuk jangka waktu lama. Dengan kata lain, osilator memiliki nilai yang lebih terbatas ketika trending daripada ketika sideway.

Ketika harga market cenderung menurun dan osilator bergerak naik menuju overbought, pembalikan sulit terjadi. Sebaliknya, ketika market berada dalam uptrend dan osilator bergerak ke oversold, pembalikan lebih mungkin terjadi. Berikut ini adalah contoh penggunaan grafik harian EURCAD. Nilai 15,5,5 juga diplot pada grafik yang menggunakan Stochastics Low.

Anda dapat melihat bahwa ketika market berada dalam downtrend, indikator Stochastics bekerja lebih lama daripada ketika dalam kondisi oversold. Oversold biasanya terjadi dalam market yang mengalami downtrending kuat. Demikian juga halnya ketika Stochastics bergerak naik ke kondisi overbought, market cenderung membalikkan harga dan bergerak ke arah tren yang baru.

Ini adalah salah satu cara bagaimana trader menggunakan indikator untuk mengidentifikasi peluang trading. Kunci dari ilustrasi di atas adalah market cenderung menurun. Setelah itu, kita tinggal mencari sinyal jual yang bergerak turun dari titik 80 pada Stochastics Low.

Jika market berada dalam kondisi uptrend, maka yang dicari oleh trader adalah titik oversold pada daerah 20. Jadi, sementara osilator bermanfaat untuk mengidentifikasi peluang trading saat tren dan arah pada indikator memiliki kecenderungan yang sama, maka kemungkinan besar sinyal yang diberikan adalah valid.

Cara Trading Dengan Sinyal Death Cross Atau Golden Cross

Dalam trading forex kita sudah mengenal istilah scalping, daily trading maupun swing. Untuk kasus trading menggunakan sinyal moving average death cross maupun golden cross, teknik scalping kurang bagus apabila menggunakan sistem ini. Karena sinyal dari perpotongan indikator moving average ini lebih bersifat lamban dan lebih bagus kalau diterapkan untuk strategi daily trading atau swing.
Perpotongan indikator moving average yang dimaksudkan disini adalah perpotongan antara indikator moving average periode panjang dengan periode yang lebih pendek. Semisal dalam kasus yang akan kita bahas ini, saya menggunakan perpotongan antara Eksponensial Moving Average (EMA) 8 dan (EMA) 21. Untuk nilai periode itu sendiri bisa kalian modifikasi berdasarkan pengalaman masing-masing yang penting mampu memberikan sinyal yang lebih baik.
Sebelum kita belajar tentang teknik death cross maupun golden cross. Sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu death cross dan golden cross.
Apa itu death cross?
Death cross adalah sebuah sinyal penurunan atau downtrend yang dihasilkan dari perpotongan antara moving average periode panjang dan periode pendek dengan posisi indikator moving average periode panjang berada diatas periode pendek.
Apa itu golden cross?
Golden cross adalah kebalikan dari posisi death cross yaitu perpotongan indikator moving average periode panjang dan periode pendek dengan posisi indikator moving average periode panjang berada di bawah periode pendek. Sinyal yang dihasilkan dari posisi golden cross sendiri adalah momen naik atau uptrend dari suatu pergerakan pertukaran mata uang.
Sinyal death cross dan golden cross memang sangat mudah untuk dikenali, begitu terjadi perpotongan antara moving average periode pendek dan panjang maka momen death cross atau golden cross telah terjadi. Namun dalam kondisi real dalam trading forex sinyal tersebut kadang masih bersifat semu karena ada kemungkinan harga kembali naik atau turun sehingga sinyal yang dihasilkan kurang begitu valid.
Untuk menghindari kesalahan sinyal dari momen death cross maupun golden cross sendiri, kita bisa memakai alat bantu yaitu level-level support dan resistance untuk mempertegas arah pergerakan harga.
Kenapa kita butuh level tersebut?
Seperti kita ketahui bahwa cara kerja indikator yang ada selama ini bersifat sebagai sinyal awal atau tanda-tanda awal tentang sebuah pergerakan. Sedangkan level support dan resistance adalah sebagai pagar pembatas yang akan menjadi alat penegasan sebuah trend pergerakan harga.
Ketika harga tidak berhasil menembus support maka harga akan kembali ke atas dan jika harga tidak berhasil menembus resistance maka harga akan kembali turun. Hal-hal inilah yang menjadi alasan kenapa sistem death cross atau golden cross ini tidak cocok untuk sistem scalping.
Untuk lebih jelas tentang pembahasan kita kali ini, saya sudah mempersiapkan gambar khusus untuk menjelaskan kasus ini.

cara trading forex; sinyal death cross; sinyal golden cross;
Coba kita perhatikan sekarang pada gambar di samping, dalam gambar tersebut nila EMA 8 berwarna merah dan EMA 21 berwarna biru. Kalau kita jeli mengamati sebuah pergerakan yang terjadi, disitu terlihat bahwa momen death cross dan golden cross akan menjadi valid ketika sudah melewati level-level support maupun resistance.

Dari gambar tersebut level support dan resistance berada pada area yang ditandai dengan munculnya lingkaran merah kecil. Coba kita perhatikan lebih detail lagi bahwa ketika harga sudah terjadi death cross maupun golden cross namun tidak berhasil menembus support maupun resistance maka sinyal tadi menjadi mentah kembali. Hal ini yang juga menjadi alasan kenapa sistem ini lebih cocok dipakai untuk daily trading maupun swing.

Kesalahan yang sering terjadi dalam trading forex adalah memaksakan sinyal ini untuk trading dalam jangka pendek sehingga ketika harga terpantul muncul kecemasan karena takut terkena stop loss atau harga berbalik arah lebih jauh.
Maka dari itu untuk mengurangi kesalahan dalam membaca sinyal tersebut perlu memperhatikan rambu-rambu tadi seperti support dan resistance. Kemudian karena trading ini bersifat daily trading atau swing maka kekuatan trading tersebut berada pada nila batas resiko atau stop loss.

Kenapa nilai stop loss yang paling penting?
Hal yang perlu ditekankan sebagai pemain daily trading atau swing adalah jangan terlalu memperhatikan bentuk candlestick satu demi satu ketika open posisi sudah terjadi. Karena hal tersebut akan membuat kecemasan yang luar biasa dan bisa berbuntut pada cut loss dan kerugian.

Langkah awal yang baik adalah menentukan nilai resiko yang sudah pasti siap untuk ditanggung. Bisnis ini layaknya bisnis real yang harus mengeluarkan modal dan siap untuk rugi maupun untung. Namun tentu saja tujuan dan harapan kita tetap pada keuntungan yang lebih banyak.

Nilai resiko tersebut bisa diatur dengan menghitung jarak antara open posisi dengan area ideal stop loss dan menyesuaikan besaran lot yang dipakai. Hal tersebut pernah saya bahas dalam mengatur sebuah money management.

Kemudian setelah open posisi apa yang harus kita lakukan?
Pertama yang harus dilakukan adalah meninggalkan layar metatrader, karena daily trading atau swing pasti membutuhkan waktu untuk setup harga dan bergerak sesuai dengan prediksi. Apabila kita tetap terpaku di layar komputer berjam-jam maka emosi atau psikologi kita akan tertekan dan akhirnya justru melakukan kesalahan yang tidak perlu. Ingat, kita sudah mengatur nilai kerugian yang siap untuk di tanggung, ini bisnis!.

Kemudian jangan memperhatikan bentuk candlestick satu persatu dalam timeframe yang kecil semisal H1 ke bawah. Sebaiknya kita melihat dalam periode lebih lama yaitu H4 ke atas, agar analisis kita lebih akurat dalam membaca pergerakan harga.

Perhatikan momen-momen fundamental yang berpengaruh, namun jangan terlalu panik ketika data fundamental tidak begitu menggembirakan karena sifat fundamental adalah sementara dan yang kita lakukan adalah daily trading atau swing.

Nah, poin yang terpenting yang perlu dipahami bahwa psikologi market cenderung lebih dominan dibanding berita-berita fundamental yang bersifat sementara. Hal ini bisa dipahami bahwa psikologi market dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah pelaku pasar yang melakukan buy atau sell. Ketika sebagian besar melakukan buy maka harga akan naik dan sebaliknya.

Memang betul kadang psikologi market sangat dipengaruhi oleh berita fundamental, tetapi itu dalam range waktu yang tidak terlalu lama. Sebagai contoh jika hari ini USD bagus maka EURUSD akan turun dan jika besok USD jelek maka EURUSD akan naik.

Namun dalam kerangka waktu yang lebih lama atau cara pandang yang lebih lebar maka momen naik turun tadi menjadi bersifat sementara dan pergerakan tetap memiliki trend yang dipengaruhi oleh psikologi market dan pada titik tertentu psikologi tersebut menemukan titik jenuh sehingga harga kembali koreksi atau berbalik arah.

Kemudian dari mana kita tahu sebagian besar pelaku pasar melakukan buy atau sell? Yaitu dengan momen break out atau tertembusnya level support atau resistance.

Ketika support berhasil tertembus maka psikologi market sedang dominan untuk melakukan sell, dengan pengaruh ini maka orang mulai berbondong-bondong untuk ikut melakukan sell sehingga harga akan jatuh lebih dalam begitu juga sebaliknya untuk momen penembusan resistance. Hal ini yang menjadi alasan kenapa sinyal death cross dan golden cross akan lebih akurat jika dipadukan dengan sinyal break out pada level support dan resistance.

Hal ini memang kadang sulit dipahami apalagi kalau kita sering bermain scalping, namun dengan berlatih secara swing atau daily trading, maka kita bisa lebih mengerti bagaimana trend, support dan resistance, psikologi market, fundamental itu menjadi satu kesatuan yang berpengaruh pada sebuah pergerakan harga.

Strategi Dasar Forex

Strategi forex sangat penting dijalankan untuk para trader forex supaya bisa mendapatkan keuntungan atau profit yang maksimal. Strategi forex membuat para trader lebih percaya diri untuk masuk ke market forex sehingga bisa membuat perhitungan dan analisa dengan baik dan benar.

Di pasar forex yang selalu berubah dengan cepat, jika tidak menggunakan strategi forex itu sama saja dengan menghabiskan modal, karena trading dengan mengikuti emosi dan berdasarkan sumber dari yang tidak terpecaya akan membuat kita kehabisan modal. Ada banyak sekali strategi forex yang dipelajari oleh para trader, namun secara umum berbagai strategi tersebut bisa dibagi ke dalam dua jenis strategi yaitu strategi memaksimalkan keuntungan dan strategi meminimalkan risiko.

Untuk memaksimalkan keuntungan maka ada strategi forex yang sangat baik yaitu menggunakan leverage sebaik mungkin. Leverage dapat membuat para trader forex untuk trading dengan jumlah yang lebih besar dari dananya. Leverage yang biasa digunakan adalah 1:100 yang berarti untuk $1 dalam account trader dapat meminjam $100 dari brokernya. Untuk leverage masing-masing broker memiliki ketentuan tersendiri.

Strategi forex untuk meminimalkan kerugian adalah dengan menggunakan stop loss. Dengan adanya stop loss dapat membantu para trader forex untuk membatasi kerugian mereka dengan cara menutup posisi trading pada harga yang bisa ditentukan sendiri oleh trader.

Selain strategi forex di atas. ada banyak strategi forex yang lainnya seperti :
Memilih pasangan mata uang yang benar dan sesuai dengan analisa.
Memahami jam trading agar tahu kapan waktu entry dan exit yang tepat.
Perhatikan kabar terbaru yang muncul mengenai forex setiap harinya.
Perdalam ilmu analisa teknikal agar dapat membaca market forex melalui chart, juga analisa fundamental untuk memahami faktor-faktor yang menjadi pendorong pergerakan harga.
Terakhir, jangan pernah putus asa untuk mencapai keberhasilan dalam trading.

Apa Yang Dimaksud Volatilitas Harga Valas

Pasar Uang (Forex) merupakan pasar yang memperjualbelikan instrumen berjangka pendek (biasanya kurang dari satu tahun) yang menjadi sarana investasi dan penghimpunan dana masyarakat. Pasar Uang sering disebut pasar likuiditas primer. Karena dana yang diperjualbelikan tidak dilakukan di tempat tertentu, pasar ini bisa juga disebut sebagai pasar abstrak.

Di Pasar Uang, karena likuiditasnya tinggi, maka fluktuasi harga dan volatilitas biasanya lebih tinggi pula dibanding pasar aset finansial lainnya. Apa sih sebenarnya volatilitas itu? Apa pula volatilitas forex? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap market jika volatilitas harga meningkat atau melemah? Artikel ini akan mengulas secara lebih mendalam tentang volatilitas harga.


#Apa Itu Volatilitas?
Volatilitas adalah besarnya jarak antara fluktuasi/naik turunnya harga saham atau valas. Volatilitas tinggi berarti harga naik tinggi dengan cepat lalu tiba-tiba turun dalam dengan cepat pula, sehingga memunculkan selisih sangat besar antara harga terendah dan harga tertinggi dalam suatu waktu.

Di Pasar Uang (Forex), volatilitas harga tertinggi biasanya terdapat pada pair GBP/USD, EUR/JPY, GBP/JPY, ataupun terkadang EUR/USD. Namun, besar-kecilnya volatilitas juga bisa berubah-ubah; ada jam-jam dimana volatilitas meningkat, dan ada jam-jam dimana volatilitas melambat.

Volatilitas bisa ditunjukkan dalam jumlah pips tertentu (misal: 200 pips sehari), atau angka absolut ($0.3000), atau persentase perubahan dari harga valas di awal periode (contoh: 8.2% dalam setahun). Contohnya nampak di bawah ini, adalah Tabel Pergerakan Harga Pasangan Mata Uang Harian dalam hitungan poin (pips).

Volatilitas ini merefleksikan besarnya risiko yang ada ketika kita bertrading pada suatu pasangan mata uang. Semakin tinggi volatilitas, semakin banyak keuntungan yang bisa dipanen trader. Di sisi lain, volatilitas yang lebih rendah, misalnya saat sesi pasar Asia, berarti nilai tukar tidak banyak berfluktuasi dan perubahannya cenderung kecil dari waktu ke waktu.

Karenanya, volatilitas atau gejolak pasar memiliki peranan pada return investasi. Sesuai dengan pepatah "High Risk, High Return", maka jika volatilitas tinggi, risiko meningkat, tetapi jumlah peluang trading juga akan bertambah.

#Bagaimana Menyikapi Volatilitas Harga Valas?
Setelah mengetahui karakter volatilitas harga valas yang demikian, bagaimana kita bisa menyikapinya? Volatilitas sering dipandang negatif karena mengekspresikan ketidakpastian dan risiko. Namun sebagai trader, kita perlu memahami bahwa jika hasil keuntungan besar biasanya mempunyai resiko yang tinggi pula.

Volatilitas tinggi biasanya malah membuat trading forex jadi lebih menarik, karena besarnya kemungkinan profit yang bisa didapat merupakan pertimbangan utama bagi day trader; berbeda dengan pandangan investor saham yang memprioritaskan "buy and hold".

Akan tetapi, ini bukan berarti kita harus bertrading di masa-masa volatilitas tinggi saja.

Keputusan tentang bagaimana menyikapi volatilitas harga tergantung pada investment profile (profil investasi) setiap orang. Setiap investor memiliki investment profile yang berbeda-beda, antara lain : konservatif, moderat, dan agresif. Jika Anda termasuk trader konservatif, maka memang lebih baik menghindari volatilitas tinggi. Tapi bila Anda lebih suka bersikap agresif, maka mengincar profit di saat pasar ramai adalah peluang yang menggiurkan. Jadi, simak berbagai materi belajar trading forex dengan tekun, pahami psikologi dan gaya trading sendiri.

Baik valas yang volatilitasnya tinggi ataupun rendah (kalem) keduanya bisa sama-sama menguntungkan, dengan syarat memakai strategi berbeda. Harga-harga yang volatilitasnya tinggi cocok untuk trader jangka pendek dan trader yang cenderung agresif. Untuk trading yang volatilitasnya tinggi, trader sebaiknya sudah terlatih dan stabil dalam psikologi trading. Trader forex harus disiplin dan punya perencanaan matang sebelum bertransaksi, serta memahami dengan baik bagaimana menata money management yang baik.

Memperjelas Aturan Money Management (MM) 5 Persen

Salah satu hal paling terkenal dalam aturan Money Management (MM) dalam trading forex adalah rule MM 5 persen. Artinya, jangan pernah meresikokan lebih dari 5 persen dana dalam rekening trading pada satu waktu. Alasan di balik peraturan ini adalah ketika Anda mengalami kerugian, dana bisa langsung hangus jika sebelumnya sudah trading dengan mempertaruhkan terlalu banyak dana. Bagaimana cara menerapkannya dalam trading forex?

#Makna Sesungguhnya Aturan MM 5 Persen
Ketika mendengar aturan MM 5 persen, seringkali trader menerjemahkan bahwa dia tidak boleh menggunakan lebih dari 5 persen modal untuk setiap kali trade. Ini adalah pemahaman yang salah. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas apa yang perlu difokuskan seorang trader sehubungan dengan Money Management dan penggunaan 5 persen dari modal.

Sebenarnya yang dimaksud aturan MM 5 persen adalah jumlah total dari akun saldo atau balance yang dapat diresikokan trader pada satu waktu, bukan dalam setiap trading. Jadi, tak peduli Anda memiliki dua posisi trading terbuka atau lima, sepuluh, bahkan dua puluh trading yang masih berjalan, jumlah maksimum yang dapat diresikokan dalam kerugian tetaplah sebesar 5 persen. Sebab, angka tersebut sudah ditetapkan sebagai batas resiko yang dapat ditanggung trader.

Lalu, timbul pertanyaan seperti ini: "Jika transaksi telah merugi 5 persen, apa yang harus saya lakukan?"

Jawabnya mudah. Anda dapat mengendalikan trading Anda dengan melakukan cut loss manual atau memasang Stop Loss sejak awal.

#Pentingnya Aturan MM 5 Persen
Untuk trader pemula, saat pertama kali mendengar aturan MM 5 Persen seperti ini, boleh jadi bertanya-tanya, "Kalau harus cut loss atau pasang Stop Loss, berarti pasti rugi dong? Padahal kalau trade-nya dibiarkan floating, nanti bisa balik profit."

Memang ada kemungkinan berbalik profit, tetapi berapa lama Anda akan menunggu hingga posisi trading yang salah itu berubah positif? Padahal, ada kemungkinan lainnya juga di mana dana dalam akun trading Anda tidak cukup memadai,

... sehingga kemudian terkena Margin Call. Apalagi, dana yang menggantung di posisi floating negatif tadi bisa jadi lebih menghasilkan ketika digunakan untuk membuka posisi trading lain.

Bila tidak ada aturan seperti ini, bisa jadi Anda akan melihat resiko per transaksi yang lebih besar dari 5%. Dalam kasus lain, bisa juga akun Anda ter-floating hingga 25% atau 50%. Hal ini tentu sangat merugikan, mengingat transaksi berisiko besar tersebut berpeluang untuk menghanguskan modal Anda.

Pada awalnya mungkin terdengar kompleks. Namun, penerapan aturan MM 5 persen ini akan jauh lebih mudah ketika Anda sudah terbiasa menaati peraturan Money Management Anda sendiri.

#Alternatif Aturan Money Management Lainnya
Tidak ada satu pun trader yang mau mengalami loss, apalagi sampai kehilangan seluruh modalnya dalam bertrading. Dalam hal ini, aturan Money Management memiliki peran yang cukup besar karena dapat membatasi kerugian yang dapat timbul sewaktu-waktu. Asalkan seorang trader dapat mengendalikan seluruh transaksinya sesuai aturan yang telah direncanakannya sendiri, maka ia akan bisa bertahan di tengah derasnya gelombang pergerakan market.

Apabila tak suka menggunakan aturan MM 5 persen, maka masih banyak variasi aturan Money Management lainnya, seperti Rasio Risk/Reward, 1% Rule, dan lain sebagainya. Apapun aturan yang diterapkan, poin pentingnya adalah trader harus menguasai Money Management. Bagi Anda yang menginginkan hasil trading konsisten, penguasaan Money Management lebih berarti dibandingkan dengan strategi apapun yang ada di dunia ini.