Banyak trader meyakini, strategi hedging dalam forex bisa menjadi cara efektif mengurangi risiko. Ide menahan dua posisi trading yang berlawanan memang cukup menarik untuk diterapkan. Apalagi, ada pula strategi memanfaatkan korelasi pair yang membuat penerapan hedging jadi makin memikat untuk dipelajari.
Namun benarkah hedging bisa melindungi posisi Anda dari kerugian? Faktanya, banyak trader justru merasa kesulitan mengambil manfaat dari strategi hedging. Banyak di antara mereka terjebak dalam locking positions, situasi dimana trader tak tahu kapan harus melepas salah satu posisi hedging. Trader malah seringkali merugi, karena membuka 2 posisi artinya terkena spread 2 kali. Biaya trading seperti spread tentunya tak bisa dikesampingkan begitu saja, apalagi jika volatilitas harga sedang bergejolak.
Itulah mengapa, tidak semua trader cocok dengan strategi hedging. Agar terhindar dari risiko-risiko di atas, maka sebaiknya jauhi strategi hedging jika Anda termasuk ke dalam tipe trader berikut ini.
#1. Sering Salah Analisa
Kualitas pertama yang dibutuhkan dalam kesuksesan strategi hedging adalah ketajaman analisa. Untuk mengetahui kapan saatnya meng-hedging posisi loss, di level mana hedging bisa dibuka, dan teknik apa yang bisa diterapkan, Anda perlu mengetahui peluang pergerakan harga terlebih dulu. Jika analisa seringkali tidak akurat, maka bukan tidak mungkin strategi hedging Anda berakhir gagal.
Contoh mudahnya, bayangkan Anda baru saja entry buy EUR/USD di harga 1.0800. Ketika harga terus turun hingga menyentuh level 1.0700, Anda memutuskan untuk melakukan hedging. Jika menganut teknik paling sederhana, open buy dan sell di pair yang sama, maka selanjutnya Anda akan membuka posisi sell EUR/USD di level 1.0700 itu tadi. Tak lama kemudian, harga kian melemah sampai ke 1.0600.
Di saat seperti itu, Anda bisa saja meyakini jika harga telah terkonfirmasi bearish, dan menutup posisi buy. Namun bagaimana jika selanjutnya harga justru rebound? Bukannya menambal kerugian dari posisi buy sebelumnya, Anda justru menderita loss lebih banyak karena order sell masih terbuka.
Itulah mengapa, perhitungan analisa yang akurat sangat diperlukan oleh pengguna strategi hedging. Risiko kesalahan analisa pada teknik ini bisa berlipat, karena ada lebih dari 1 posisi yang harus di-manage. Di samping itu, ketidaktepatan analisa akan menyebabkan kerugian yang tidak perlu. Dalam contoh trading di atas, Anda tak akan menderita kerugian lebih besar, jika analisa trading Anda memberikan sinyal untuk tidak terburu-buru menutup posisi buy.
#2. Tidak Punya Money Management
Di tahap ini, Anda tentunya sudah paham jika hedging memerlukan pembukaan 2 posisi trading (minimal). Jadi pastinya, dengan melakukan hedging, Anda akan memperbesar ukuran dan risiko trading. Belum lagi, spread juga perlu diperhitungkan karena masing-masing posisi akan dikenai potongan dari biaya trading tersebut.
Agar akun trading tetap aman meski Anda membuka banyak posisi untuk keperluan hedging, pastinya diperlukan ketahanan dana yang cukup untuk menopang posisi-posisi trading yang masih floating. Money management harus menjadi prioritas, agar Anda bisa menempatkan ukuran trading di tiap posisi secara ideal. Jika trading Anda tidak mengaplikasikan money management, maka itu artinya Anda belum siap untuk menghadapi risiko hedging.
#3. Masih Emosional
Sudah jadi rahasia umum bila emosi bukanlah kawan yang tepat dalam bertrading. Trader selalu disarankan untuk meminimalisir pengaruh emosi sebisa mungkin, karena keputusan-keputusan trading yang dipengaruhi emosi cenderung berujung pada kerugian besar. Namun sayangnya, tingkat kesulitan, tekanan, dan risiko di strategi hedging membuat trader lebih rentan pada ketidakstabilan emosi.
Untuk meng-hedging posisi pertama, Anda perlu membuka posisi kedua. Jika order kedua tersebut tidak berhasil, maka Anda harus meng-hedging-nya dengan posisi ketiga. Apabila masih gagal juga, bisa saja Anda terpancing untuk membuka posisi ke-4, ke-5, ke-6, dan seterusnya. Dalam kondisi seperti itu, Anda sudah bertrading di luar rencana dan secara otomatis meningkatkan risiko kerugian.
Selain itu, strategi hedging membutuhkan banyak kesabaran untuk mendapatkan hasil akhir yang profitable. Seringkali, trader dituntut untuk bisa menghadapi posisi-posisi floating dan masing-masing loss serta profitnya dengan penuh kesabaran. Jika Anda masih emosional dan tidak telaten,
Maka kesulitan seperti itu akan mudah memicu keputusan-keputusan yang merugikan, seperti halnya mengambil jalan pintas termudah dengan menutup semua posisi, tanpa memperhitungkan untung ruginya.
#4. Kurang Pengalaman
Ketajaman analisa, money management yang terukur, dan pengendalian emosi, merupakan 3 hal yang bisa diasah seiring dengan bertambahnya pengalaman trading. Jadi, wajar saja bila trader yang masih minim pengalaman tidak direkomendasikan untuk mendekati risiko hedging.
Mereka yang sudah pernah merasakan jatuh bangun dan masih bertahan di pasar forex, pastinya telah banyak belajar dan terlatih untuk menghadapi kesulitan-kesulitan hedging. Selain itu, para trader berpengalaman telah memiliki kesabaran serta mental trading yang sangat dibutuhkan untuk menjamin stabilitas emosi ketika mengolah strategi hedging.
Strategi Hedging Tak Mustahil Untuk Diterapkan
Tak perlu berkecil hati jika Anda masih pemula atau belum memiliki skill yang terasah dalam analisa trading. Kesempatan menggunakan strategi hedging bukannya sama sekali tertutup bagi Anda. Pengalaman bisa membuat Anda menjadi trader yang memiliki ketajaman analisa, money management, dan kontrol emosi. Oleh karena itu, banyak-banyaklah belajar tentang strategi hedging, sembari Anda mengumpulkan pengalaman yang diperlukan. Sebagai rekomendasi, menguji teknik hedging bisa dilakukan di akun demo terlebih dulu agar Anda terhindar dari risiko real.
Jumat, 07 September 2018
Dilema Trader Forex: Membuka Posisi Atau Tidak?
Membuka posisi trading atau tidak? Pertanyaan ini sering muncul dibenak para trader forex ketika ingin sekali masuk pasar, tetapi setelah melihat chart trading jadi kurang percaya diri sehingga ragu-ragu untuk membuka posisi trading. Kadang-kadang karena telah komit ‘hari ini saya harus trading’, maka dipaksakan untuk membuka posisi, dan beberapa saat kemudian menyadari bahwa pergerakan harga pasar ternyata tidak sesuai dengan prediksi. Jika kebetulan Anda mengalami hal seperti ini, Anda tidak sendiri. Banyak trader yang telah mapan melakukan hal serupa sebelum mereka menemukan kepercayaan diri yang kuat untuk masuk pasar.
Bagaimana mengetahui saat yang paling tepat untuk membuka posisi trading?
Bagaimana sebenarnya para trader profesional dan mereka yang telah berpengalaman menganalisa pasar sehingga bisa dengan cepat menentukan untuk membuka posisi trading atau tidak? Meski tiap trader punya cara yang berbeda, tetapi pada dasarnya mereka berpatokan pada 2 hal:
#1. Apakah metode dan strategi trading yang digunakan telah memberikan sinyal cukup valid?
#2. Apakah posisi trading yang akan dibuka bisa memberikan risk/reward ratio cukup bagus?
Sinyal trading yang valid adalah setup pergerakan harga pasar yang terbaik sesuai dengan aturan metode dan strategi trading. Hal ini tidak berarti setup yang terbaik itu pasti berhasil atau profitable, tetapi dengan risk/reward ratio yang rasional, dalam jangka panjang akan diperoleh return yang memadai dengan profit yang konsisten. Para trader profesional juga ada yang mengalami kerugian sampai 50% dari keseluruhan trade dalam suatu periode, tetapi dengan kekuatan risk/reward ratio yang bisa dianggap sebagai ‘holy grail’ dalam trading forex, mereka masih bisa memperoleh return yang cukup memadai.
Sebagai contoh, bagi trader yang telah berpengalaman menggunakan metode price action, biasanya mereka tidak ragu dalam menentukan sikap untuk membuka posisi setelah membaca setup pergerakan harga pasar. Setup price action jelas, valid atau tidak valid, jika valid dan telah dikonfirmasi oleh faktor pendukung (support atau resistance), mereka segera membuka posisi. Mereka bisa memutuskannya dalam waktu yang relatif singkat karena metode price action memang sederhana dan tidak memerlukan perhitungan yang kompleks.
Berikut contoh setup price action yang ‘bagus’ sebagai sinyal untuk membuka posisi. ‘Bagus’ disini berarti probabilitasnya tinggi.
Pada gambar chart diatas tampak setup price action dengan pin bar yang terbentuk pada trend dominan bearish (tanda panah) dan dikonfirmasi oleh level resistance baik statis (garis horisontal) maupun dinamis (ema8 dan ema21). Konfirmasinya adalah penolakan (rejection) ‘ekor’ pin bar tersebut oleh level resistance statis, dan layer atau lapisan resistance dinamis ema21 dan ema8 (tidak menembus lapisan resistance dinamis). Selain itu, level penutupan pin bar dibawah level pembukaannya (bar bearish) dan berada dibawah ema8, yang sesuai dengan trend dominan (bearish). Level stop loss bisa ditentukan diatas level resistance statis.
Dari contoh diatas bisa diambil kesimpulan bahwa sekali kita menemukan setup yang sesuai dengan metode dan strategi trading yang telah kita sepakati, maka kita tidak akan ragu lagi untuk membuka posisi trading, dan kita akan trading seperti ‘penembak jitu’. Selain metode dan strategi, kita juga harus mempunyai rencana trading dan jurnal trading untuk mengevaluasi seluruh hasil trading yang telah kita lakukan. Dengan cara demikian, kita bisa menjadi disiplin dalam trading, dan seiring dengan waktu serta pengalaman, kita akan bisa selalu percaya diri dan tahu kapan saat yang paling tepat untuk entry. Jika sinyal trading tidak cukup valid atau probabilitasnya sangat kecil, kita tidak harus memaksakan diri untuk masuk pasar.
Bagaimana mengetahui saat yang paling tepat untuk membuka posisi trading?
Bagaimana sebenarnya para trader profesional dan mereka yang telah berpengalaman menganalisa pasar sehingga bisa dengan cepat menentukan untuk membuka posisi trading atau tidak? Meski tiap trader punya cara yang berbeda, tetapi pada dasarnya mereka berpatokan pada 2 hal:
#1. Apakah metode dan strategi trading yang digunakan telah memberikan sinyal cukup valid?
#2. Apakah posisi trading yang akan dibuka bisa memberikan risk/reward ratio cukup bagus?
Sinyal trading yang valid adalah setup pergerakan harga pasar yang terbaik sesuai dengan aturan metode dan strategi trading. Hal ini tidak berarti setup yang terbaik itu pasti berhasil atau profitable, tetapi dengan risk/reward ratio yang rasional, dalam jangka panjang akan diperoleh return yang memadai dengan profit yang konsisten. Para trader profesional juga ada yang mengalami kerugian sampai 50% dari keseluruhan trade dalam suatu periode, tetapi dengan kekuatan risk/reward ratio yang bisa dianggap sebagai ‘holy grail’ dalam trading forex, mereka masih bisa memperoleh return yang cukup memadai.
Sebagai contoh, bagi trader yang telah berpengalaman menggunakan metode price action, biasanya mereka tidak ragu dalam menentukan sikap untuk membuka posisi setelah membaca setup pergerakan harga pasar. Setup price action jelas, valid atau tidak valid, jika valid dan telah dikonfirmasi oleh faktor pendukung (support atau resistance), mereka segera membuka posisi. Mereka bisa memutuskannya dalam waktu yang relatif singkat karena metode price action memang sederhana dan tidak memerlukan perhitungan yang kompleks.
Berikut contoh setup price action yang ‘bagus’ sebagai sinyal untuk membuka posisi. ‘Bagus’ disini berarti probabilitasnya tinggi.
Pada gambar chart diatas tampak setup price action dengan pin bar yang terbentuk pada trend dominan bearish (tanda panah) dan dikonfirmasi oleh level resistance baik statis (garis horisontal) maupun dinamis (ema8 dan ema21). Konfirmasinya adalah penolakan (rejection) ‘ekor’ pin bar tersebut oleh level resistance statis, dan layer atau lapisan resistance dinamis ema21 dan ema8 (tidak menembus lapisan resistance dinamis). Selain itu, level penutupan pin bar dibawah level pembukaannya (bar bearish) dan berada dibawah ema8, yang sesuai dengan trend dominan (bearish). Level stop loss bisa ditentukan diatas level resistance statis.
Dari contoh diatas bisa diambil kesimpulan bahwa sekali kita menemukan setup yang sesuai dengan metode dan strategi trading yang telah kita sepakati, maka kita tidak akan ragu lagi untuk membuka posisi trading, dan kita akan trading seperti ‘penembak jitu’. Selain metode dan strategi, kita juga harus mempunyai rencana trading dan jurnal trading untuk mengevaluasi seluruh hasil trading yang telah kita lakukan. Dengan cara demikian, kita bisa menjadi disiplin dalam trading, dan seiring dengan waktu serta pengalaman, kita akan bisa selalu percaya diri dan tahu kapan saat yang paling tepat untuk entry. Jika sinyal trading tidak cukup valid atau probabilitasnya sangat kecil, kita tidak harus memaksakan diri untuk masuk pasar.
6 Tips Ampuh Terhindar Dari Kegagalan Trading
Trading di pasar valuta asing (Forex) tidak didasarkan pada setiap ilmu pasti. Mengoptimalkan jumlah trading dalam akun hanya dapat dimungkinkan dengan pengalaman belajar (baik dari akun demo, maupun dari trader-trader lain yang lebih berpengalaman) serta membaca buku-buku. Pengalaman belajar dan membaca buku-buku adalah kunci trading yang menguntungkan sehingga memungkinkan siapapun untuk menjadi kaya dalam waktu singkat.
Nah, mari lihat beberapa pelajaran penting yang pasti akan membantu dalam menjaga disiplin trading dan membantu Anda untuk mendapatkan keuntungan yang optimal.
#1. Kontrol Emosi Anda
Jangan biarkan emosi mengganggu saat trading. Di antara semua emosi yang ada pada seorang manusia, keserakahan dan ketakutan keduanya adalah yang paling merugikan, khususnya untuk seorang trader.
Serakah ketika melakukan open position ketika trading menunjukkan sinyal positif, akan membawa seorang trader pada awal kehancuran karirnya. Begitu pula dengan takut kehilangan trading yang memaksa trader untuk menutup posisi pada kerugian (loss). Sementara sesaat setelah trader close position, ia baru menyadari bahwa pasar telah mulai bergerak ke arah yang menguntungkan. Ingatlah selalu satu hal ini: pasar selalu mendukung mereka yang tetap tenang, sabar dengan trading mereka, dan menghindari oleh pergerakan pasar yang tidak menguntungkan.
#2. Katakan "Tidak" untuk Over-trading
Setelah trader mengalami kerugian dalam trading sebelumnya, ia berpikir untuk menutupi kerugian dan memasuki pasar lagi dengan harapan bisa mendapat keuntungan. Tindakan ini bukan keputusan yang salah. Namun ketika seorang trader terbawa emosinya dan membiarkan dirinya dikendalikan oleh emosi, bisa dipastikan bukan keuntungan yang akan diraihnya, melainkan kerugian demi kerugian.
Selain berdampak pada kondisi finansial trader, over-trading juga membawa efek buruk pada kondisi psikologisnya. Tingkat kepercayaan diri trader tersebut dapat turun. Sementara di sisi lain ketakutannya makin meningkat, karena yang ia sering gagal untuk masuk dalam pasar ketika arah jelas. Pada akhirnya, trader akan menjadi pesimis dan menutup mata ketika peluang tampak di depan matanya.
#3. Style dan Sesi Trading
Style trading berbeda antar trader, bergantung pada kelayakan waktu dan kemudahan yang mereka dapat ketika melakukan trading. Namun, sebagian besar trader lebih memilih trading di sesi Eropa atau AS. Sebab sebagai pasar kedua negara tersebut biasanya stabil di dalamnya dan memiliki probabilitas 80% untuk bergerak dalam satu arah tunggal.
#4. Menutup Trading
Adanya fundamental termasuk pidato atau konferensi oleh para pembuat kebijakan telah mencerminkan dampak yang mendalam pada pasar. Sehingga sangat dianjurkan bagi para trader untuk close position sebelum peristiwa seperti poin teknis gagal, karena volatilitas yang tinggi. Selain itu, jangan lupa untuk menutup trading pada hari Jumat sebelum pasar ditutup untuk akhir pekan. Anda tidak pernah tahu berita apa atau keputusan apa yang mungkin muncul pada akhir pekan, yang dapat menyebabkan pasar membuka gap besar.
#5. Trend adalah Teman Anda
Breakout terjadi baik dalam keadaan bearish dan juga dalam trend bullish. Misalnya di pasar bullish ketika Anda melihat breakout bearish, menjual bukanlah ide yang baik. Apa yang seharusnya Anda lakukan adalah membeli lebih banyak. Hal yang sama berlaku untuk trend bearish, di mana harga di jual saat terjadi bouncing dapat mengoptimalkan keuntungan.
#6. Menambah Posisi
Jika Anda baru untuk trading, tujuan utama Anda adalah bermain aman. Bukan melakukan beberapa inovasi yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya. Untuk itu cobalah untuk melakukan open position di saat harga sedang menguntungkan.
Nah, mari lihat beberapa pelajaran penting yang pasti akan membantu dalam menjaga disiplin trading dan membantu Anda untuk mendapatkan keuntungan yang optimal.
#1. Kontrol Emosi Anda
Jangan biarkan emosi mengganggu saat trading. Di antara semua emosi yang ada pada seorang manusia, keserakahan dan ketakutan keduanya adalah yang paling merugikan, khususnya untuk seorang trader.
Serakah ketika melakukan open position ketika trading menunjukkan sinyal positif, akan membawa seorang trader pada awal kehancuran karirnya. Begitu pula dengan takut kehilangan trading yang memaksa trader untuk menutup posisi pada kerugian (loss). Sementara sesaat setelah trader close position, ia baru menyadari bahwa pasar telah mulai bergerak ke arah yang menguntungkan. Ingatlah selalu satu hal ini: pasar selalu mendukung mereka yang tetap tenang, sabar dengan trading mereka, dan menghindari oleh pergerakan pasar yang tidak menguntungkan.
#2. Katakan "Tidak" untuk Over-trading
Setelah trader mengalami kerugian dalam trading sebelumnya, ia berpikir untuk menutupi kerugian dan memasuki pasar lagi dengan harapan bisa mendapat keuntungan. Tindakan ini bukan keputusan yang salah. Namun ketika seorang trader terbawa emosinya dan membiarkan dirinya dikendalikan oleh emosi, bisa dipastikan bukan keuntungan yang akan diraihnya, melainkan kerugian demi kerugian.
Selain berdampak pada kondisi finansial trader, over-trading juga membawa efek buruk pada kondisi psikologisnya. Tingkat kepercayaan diri trader tersebut dapat turun. Sementara di sisi lain ketakutannya makin meningkat, karena yang ia sering gagal untuk masuk dalam pasar ketika arah jelas. Pada akhirnya, trader akan menjadi pesimis dan menutup mata ketika peluang tampak di depan matanya.
#3. Style dan Sesi Trading
Style trading berbeda antar trader, bergantung pada kelayakan waktu dan kemudahan yang mereka dapat ketika melakukan trading. Namun, sebagian besar trader lebih memilih trading di sesi Eropa atau AS. Sebab sebagai pasar kedua negara tersebut biasanya stabil di dalamnya dan memiliki probabilitas 80% untuk bergerak dalam satu arah tunggal.
#4. Menutup Trading
Adanya fundamental termasuk pidato atau konferensi oleh para pembuat kebijakan telah mencerminkan dampak yang mendalam pada pasar. Sehingga sangat dianjurkan bagi para trader untuk close position sebelum peristiwa seperti poin teknis gagal, karena volatilitas yang tinggi. Selain itu, jangan lupa untuk menutup trading pada hari Jumat sebelum pasar ditutup untuk akhir pekan. Anda tidak pernah tahu berita apa atau keputusan apa yang mungkin muncul pada akhir pekan, yang dapat menyebabkan pasar membuka gap besar.
#5. Trend adalah Teman Anda
Breakout terjadi baik dalam keadaan bearish dan juga dalam trend bullish. Misalnya di pasar bullish ketika Anda melihat breakout bearish, menjual bukanlah ide yang baik. Apa yang seharusnya Anda lakukan adalah membeli lebih banyak. Hal yang sama berlaku untuk trend bearish, di mana harga di jual saat terjadi bouncing dapat mengoptimalkan keuntungan.
#6. Menambah Posisi
Jika Anda baru untuk trading, tujuan utama Anda adalah bermain aman. Bukan melakukan beberapa inovasi yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya. Untuk itu cobalah untuk melakukan open position di saat harga sedang menguntungkan.
Trading Mengikuti Metode, Pasar Mengikuti Emosi
Konsep dasar untuk memperkirakan pergerakan pasar secara optimal adalah dengan disiplin dalam trading. Trading selalu berdasarkan metode dan kita mesti mengikuti metode tersebut, sedang pergerakan pasar adalah cerminan dari emosi para pelakunya. Trading adalah methodical sedang pasar adalah emosional. Tampaknya sederhana untuk dimengerti tetapi sering kali yang terjadi adalah sebaliknya sehingga kita terjebak pada keadaan yang emosional ketika trading, yang bisa menghancurkan account kita.
Sebagai contoh, trader cenderung emosional karena ia mengira pergerakan pasar mengikuti metode tertentu. Semisal ia menggunakan pendekatan dengan garis trend untuk entry. Metode ini bisa berjalan baik berkali-kali pada waktu sebelumnya, dan ketika sekarang pergerakan pasar berlawanan dengan yang diharapkan, trader tersebut cenderung emosional. Katakan ia menggunakan garis support berdasarkan uptrend yang sedang terjadi dan entry buy pada level yang dekat dengan garis tersebut. Ia tidak mengerti mengapa harga bergerak menembus garis tersebut dan tidak bouncing (bergerak memantul sehingga searah dengan trend sekarang).
Pada intinya trader tersebut memproyeksikan pendekatan methodical ke pasar dan yakin bahwa pasar juga bergerak mengikuti metode tertentu. Dalam contoh ia percaya bahwa jika garis uptrend (garis support) tersebut break (ditembus) maka itu adalah false break (salah) dan berharap harga akan bergerak balik sesuai dengan yang diharapkannya.
Trader tersebut telah melibatkan emosinya dalam trading dengan mengasumsikan pasar bergerak mengikuti suatu metode tertentu. Ketika pasar tidak bergerak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan menerapkan cara-cara yang bisa merugikan rencana trading dan juga account-nya. Cara tersebut misalnya :
Averaging pada posisinya yang sedang loss,
Mencabut stop loss sehingga tidak menggunakan stop loss, atau
Memperlebar jarak stop loss.
Cara-cara tersebut adalah kesalahan yang umum dilakukan oleh trader yang emosional.
Ketika Anda hendak entry harus selalu ingat bahwa strategi entry Anda berdasarkan suatu metode tertentu dan tidak terlalu bergantung pada prasangka Anda terhadap pergerakan harga pasar. Jika Anda terlalu berharap, Anda akan kecewa. Trader sering salah mengerti dan mengira bahwa strategi trading yang mempunyai winning ratio (angka perbandingan profit) tinggi akan selalu profitable. Dalam kenyataannya strategi yang paling baguspun hanya menghasilkan probabilitas profit antara 40% hingga 50% setiap kali trade.
Yakinlah pada metode trading Anda yang telah teruji dan tradinglah dengan metode tersebut secara disiplin. Biarkan pasar yang emosional menentukan hasil trading Anda. Sebisa mungkin usahakan untuk tidak menggunakan leverage yang terlalu tinggi untuk menjaga equity Anda jika terjadi margin call, dan jangan terlalu berharap pada pergerakan harga pasar.
Sebagai contoh, trader cenderung emosional karena ia mengira pergerakan pasar mengikuti metode tertentu. Semisal ia menggunakan pendekatan dengan garis trend untuk entry. Metode ini bisa berjalan baik berkali-kali pada waktu sebelumnya, dan ketika sekarang pergerakan pasar berlawanan dengan yang diharapkan, trader tersebut cenderung emosional. Katakan ia menggunakan garis support berdasarkan uptrend yang sedang terjadi dan entry buy pada level yang dekat dengan garis tersebut. Ia tidak mengerti mengapa harga bergerak menembus garis tersebut dan tidak bouncing (bergerak memantul sehingga searah dengan trend sekarang).
Pada intinya trader tersebut memproyeksikan pendekatan methodical ke pasar dan yakin bahwa pasar juga bergerak mengikuti metode tertentu. Dalam contoh ia percaya bahwa jika garis uptrend (garis support) tersebut break (ditembus) maka itu adalah false break (salah) dan berharap harga akan bergerak balik sesuai dengan yang diharapkannya.
Trader tersebut telah melibatkan emosinya dalam trading dengan mengasumsikan pasar bergerak mengikuti suatu metode tertentu. Ketika pasar tidak bergerak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan menerapkan cara-cara yang bisa merugikan rencana trading dan juga account-nya. Cara tersebut misalnya :
Averaging pada posisinya yang sedang loss,
Mencabut stop loss sehingga tidak menggunakan stop loss, atau
Memperlebar jarak stop loss.
Cara-cara tersebut adalah kesalahan yang umum dilakukan oleh trader yang emosional.
Ketika Anda hendak entry harus selalu ingat bahwa strategi entry Anda berdasarkan suatu metode tertentu dan tidak terlalu bergantung pada prasangka Anda terhadap pergerakan harga pasar. Jika Anda terlalu berharap, Anda akan kecewa. Trader sering salah mengerti dan mengira bahwa strategi trading yang mempunyai winning ratio (angka perbandingan profit) tinggi akan selalu profitable. Dalam kenyataannya strategi yang paling baguspun hanya menghasilkan probabilitas profit antara 40% hingga 50% setiap kali trade.
Yakinlah pada metode trading Anda yang telah teruji dan tradinglah dengan metode tersebut secara disiplin. Biarkan pasar yang emosional menentukan hasil trading Anda. Sebisa mungkin usahakan untuk tidak menggunakan leverage yang terlalu tinggi untuk menjaga equity Anda jika terjadi margin call, dan jangan terlalu berharap pada pergerakan harga pasar.
Jumat, 31 Agustus 2018
Ambillah Apa Yang Diberikan Pasar
Jika Anda pergi ke sebuah toko dengan maksud membeli segelas susu segar, tetapi ternyata toko tersebut tidak menyediakan susu, hanya menjual orange juice. Apa yang akan Anda lakukan? Ada 3 kemungkinan:
1. Meninggalkan toko itu dan pergi ke toko lain yang menjual segelas susu
2. Meninggalkan toko tersebut dan tidak jadi membeli susu
3. Membeli segelas orange juice dari toko itu.
Pada akhirnya pilihan Anda akan tergantung dari apakah Anda memang membutuhkan susu. Jika Anda perlu minuman dengan kandungan gizi tinggi maka Anda akan memilih opsi 1 atau 2, tetapi jika Anda hanya ingin menghilangkan rasa haus, maka Anda bisa memilih opsi 3. Analogi susu dan orange juice ini bisa diterapkan juga dalam trading forex.
Salah satu alasan mengapa banyak trader yang mengalami kerugian adalah karena mereka mengharapkan bisa membeli segelas susu dari toko yang hanya menjual orange juice. Trading adalah methodical atau mengikuti metode tertentu. Ini artinya kita telah menyiapkan rencana dan strategi kapan akan buy atau sell. Rencana ini mencakup keadaan pasar tertentu yang sesuai dengan strategi kita.
Mengharapkan satu strategi bisa berjalan pada kondisi pasar yang berubah-ubah adalah tidak realistis. Strategi yang bisa berjalan dengan baik pada saat krisis tahun 2008-2009 cenderung gagal jika diterapkan pada masa recovery saat ini.
Dua kondisi pasar yang layak untuk trading adalah trending dan sideways (ranging). Strategi untuk kondisi trending sangat populer dan digunakan oleh sebagian besar trader forex. Hal ini disebabkan karena keadaan trending relatif mudah untuk diidentifikasi dan lebih profitable. Kondisi sideways (ranging) memerlukan 2 level sebagai pembatas range dan biasanya menjadi favorit bagi trader pemula yang baru belajar cara menentukan level support dan resistance. Mereka trading dengan strategi buy pada support dan sell pada resistance.
Meski kedua kondisi pasar tersebut relatif mudah untuk diidentifikasi tetapi banyak trader yang merugi karena mereka menggunakan strategi yang salah pada suatu kondisi pasar tertentu. Setelah trader mempunyai strategi yang menurutnya paling bisa diandalkan, ia harus mengidentifikasi pada kondisi pasar yang bagaimana strateginya bisa berjalan dengan baik, kemudian tunggu hingga pasar ‘memberi’ kondisi yang diinginkan.
Dengan analogi diatas, jika strategi Anda pas untuk kondisi sideways, sama dengan Anda akan membeli segelas susu karena Anda memang sedang membutuhkan minuman bergizi tinggi (atau pasar yang sideways). Jika kondisi pasar masih trending seharusnya Anda tidak masuk pasar hingga keadaan berubah menjadi sideways.
Banyak trader yang mempunyai berbagai macam strategi. Mereka mengamati pergerakan beberapa pasangan mata uang favoritnya, misalnya EUR/USD, dan masuk pasar dengan strategi yang telah disiapkan untuk EUR/USD. Hal ini sama dengan Anda membeli orange juice karena lebih tertarik pada minuman untuk menghilangkan rasa haus daripada kandungan spesifik yang ada pada minuman tersebut, atau Anda lebih tertarik trading pada EUR/USD (menghilangkan rasa haus) dari pada trading dengan strategi tertentu (minuman untuk menghilangkan rasa haus).
1. Meninggalkan toko itu dan pergi ke toko lain yang menjual segelas susu
2. Meninggalkan toko tersebut dan tidak jadi membeli susu
3. Membeli segelas orange juice dari toko itu.
Pada akhirnya pilihan Anda akan tergantung dari apakah Anda memang membutuhkan susu. Jika Anda perlu minuman dengan kandungan gizi tinggi maka Anda akan memilih opsi 1 atau 2, tetapi jika Anda hanya ingin menghilangkan rasa haus, maka Anda bisa memilih opsi 3. Analogi susu dan orange juice ini bisa diterapkan juga dalam trading forex.
Salah satu alasan mengapa banyak trader yang mengalami kerugian adalah karena mereka mengharapkan bisa membeli segelas susu dari toko yang hanya menjual orange juice. Trading adalah methodical atau mengikuti metode tertentu. Ini artinya kita telah menyiapkan rencana dan strategi kapan akan buy atau sell. Rencana ini mencakup keadaan pasar tertentu yang sesuai dengan strategi kita.
Mengharapkan satu strategi bisa berjalan pada kondisi pasar yang berubah-ubah adalah tidak realistis. Strategi yang bisa berjalan dengan baik pada saat krisis tahun 2008-2009 cenderung gagal jika diterapkan pada masa recovery saat ini.
Dua kondisi pasar yang layak untuk trading adalah trending dan sideways (ranging). Strategi untuk kondisi trending sangat populer dan digunakan oleh sebagian besar trader forex. Hal ini disebabkan karena keadaan trending relatif mudah untuk diidentifikasi dan lebih profitable. Kondisi sideways (ranging) memerlukan 2 level sebagai pembatas range dan biasanya menjadi favorit bagi trader pemula yang baru belajar cara menentukan level support dan resistance. Mereka trading dengan strategi buy pada support dan sell pada resistance.
Meski kedua kondisi pasar tersebut relatif mudah untuk diidentifikasi tetapi banyak trader yang merugi karena mereka menggunakan strategi yang salah pada suatu kondisi pasar tertentu. Setelah trader mempunyai strategi yang menurutnya paling bisa diandalkan, ia harus mengidentifikasi pada kondisi pasar yang bagaimana strateginya bisa berjalan dengan baik, kemudian tunggu hingga pasar ‘memberi’ kondisi yang diinginkan.
Dengan analogi diatas, jika strategi Anda pas untuk kondisi sideways, sama dengan Anda akan membeli segelas susu karena Anda memang sedang membutuhkan minuman bergizi tinggi (atau pasar yang sideways). Jika kondisi pasar masih trending seharusnya Anda tidak masuk pasar hingga keadaan berubah menjadi sideways.
Banyak trader yang mempunyai berbagai macam strategi. Mereka mengamati pergerakan beberapa pasangan mata uang favoritnya, misalnya EUR/USD, dan masuk pasar dengan strategi yang telah disiapkan untuk EUR/USD. Hal ini sama dengan Anda membeli orange juice karena lebih tertarik pada minuman untuk menghilangkan rasa haus daripada kandungan spesifik yang ada pada minuman tersebut, atau Anda lebih tertarik trading pada EUR/USD (menghilangkan rasa haus) dari pada trading dengan strategi tertentu (minuman untuk menghilangkan rasa haus).
3 Bias Berpengaruh Dan Berbahaya Dalam Trading
Dr. Van K. Tharp Ph.D, seorang psikiater untuk para trader, sekaligus pendiri dan presiden Van Tharp Insititute, yang pernah menghimpun lebih dari 5000 profil trader dan investor top dunia dalam 10 tahun studinya, ada tiga bias yang akan mempengaruhi trading seseorang. Bukan hanya mempengaruhi, bias-bias tersebut juga bisa berbahaya bagi trader. Bias-bias apa saja? Ulasannya akan dibahas dalam artikel ini.
#1. Kesalahan Gambler (Penjudi)
Orang-orang cenderung percaya bahwa setelah serangkaian kerugian, kemenangan akan datang berikutnya. Ambil contoh bahwa Anda sedang bermain permainan melempar koin dengan modal $1000. Anda kehilangan taruhan tiga kali berturut-turut pada sisi "kepala" dan dikenakan biaya $100 per taruhan. Apakah Anda akan bertaruh lagi dan berapa banyak akan Anda dipertaruhkan?
Kemungkinan Anda akan terus bertaruh pada kepala dan dengan besar taruhan yang lebih tinggi. Katakanlah $300. Anda tidak percaya bahwa hasil lembaran koin itu akan selamanya menampilkan sesisi "ekor".Di sinilah, trader harus memahami bedanya trading dengan melempar koin.
Trader harus memperlakukan setiap trading secara independen dan tidak terpengaruh oleh hasil masa lalu. Kondisi pasar senantiasa berubah-ubah dari waktu ke waktu, dan Anda tak bisa hanya terus menerus bertaruh pada "bullish" saja atau "bearish" saja. Tentukan keputusan trading setelah menelaah kondisi pasar sebaik-baiknya, dan atur modal yang dipertaruhkan dalam setiap posisi trading berdasarkan tatanan Money Management tertentu.
#2. Membatasi Keuntungan Dan Memperlebar Kerugian
Orang cenderung untuk membatasi keuntungan mereka dan memberikan lebih banyak ruang untuk kerugian.
Tidak ada yang suka merasakan rugi. Oleh karena itu, kebanyakan investor cenderung menahan posisi rugi dan berharap tren harga di pasar akan berbalik segera sehingga setidaknya posisi trading yang awalnya rugi itu bisa ditutup dalam kondisi impas. Namun, seringkali yang terjadi justru kerugian itu makin membengkak.
Di sisi lain, jika mereka sedang profit, sebagian besar investor cenderung untuk menutup posisi trading lebih awal karena mereka takut keuntungan itu akan hilang. Setelah itu, ternyata mereka menyesal mengapa mereka tidak menahan posisi trading lebih lama lagi (terdengar familiar?).
Salah satu prinsip yang paling penting dalam trading adalah bertentangan dengan kedua fenomena itu. Realitanya, sebagian kesuksesan trader terletak pada kemampuannya untuk membatasi kerugian dan membiarkan profit bertambah. Dalam bahasa Inggris, dikenal dengan pepatah, "Cut losses short, let profits run".
Kerugian merupakan bagian yang wajar dan pasti dialami oleh semua trader. Namun, perbedaan antara trader yang profit dengan trader yang merugi, terutama pada kemampuan membatasi kerugian, sedangkan trader forex yang profit mampu menyingkirkan bias berbahaya itu dan tak sungkan untuk cut loss. Agar sukses, trader harus memahami ia bisa "mundur saat ini untuk bisa berperang di lain hari".
#3. Anggapan Bahwa Saya Pasti Benar
Secara alamiah, manusia bersifat egois dan akan melakukan apa saja untuk membuktikan bahwa dirinya benar. Oleh karena itu, seringkali karena trader beranggapan bahwa "Dolar pasti menguat" maka mempertaruhkan sebanyak-banyak modalnya untuk buy Dolar, tanpa mempedulikan kondisi pasar ataupun kapabilitas modalnya sendiri. Hal serupa bisa dialami oleh orang-orang lain, seperti "Harga emas pasti naik terus", atau lainnya.
Pada akhirnya, mereka akan memahami bahwa akurasi tinggi tidaklah penting dalam trading. Hanya karena Anda benar, tidak berarti Anda pasti akan mendapatkan keuntungan. Umpama Dolar memang menguat, maka kapan Dolar menguat? sebelumnya akan turun dulu hingga harga berapa? Hal-hal seperti itu perlu dipertimbangkan dalam menghitung besarnya modal yang siap ditanamkan untuk "membuktikan kebenaran" anggapana Anda.
Seperti yang dikatakan oleh George Soros, "Yang penting adalah bukan apakah Anda benar atau salah, tapi berapa banyak uang yang Anda buat ketika Anda benar dan berapa banyak Anda loss ketika Anda salah."
Poin ini perlu dicamkan oleh trader, sebagaimana juga ungkapan-ungkapan berharga lainnya dari trader forex paling terkenal di dunia ini.
#1. Kesalahan Gambler (Penjudi)
Orang-orang cenderung percaya bahwa setelah serangkaian kerugian, kemenangan akan datang berikutnya. Ambil contoh bahwa Anda sedang bermain permainan melempar koin dengan modal $1000. Anda kehilangan taruhan tiga kali berturut-turut pada sisi "kepala" dan dikenakan biaya $100 per taruhan. Apakah Anda akan bertaruh lagi dan berapa banyak akan Anda dipertaruhkan?
Kemungkinan Anda akan terus bertaruh pada kepala dan dengan besar taruhan yang lebih tinggi. Katakanlah $300. Anda tidak percaya bahwa hasil lembaran koin itu akan selamanya menampilkan sesisi "ekor".Di sinilah, trader harus memahami bedanya trading dengan melempar koin.
Trader harus memperlakukan setiap trading secara independen dan tidak terpengaruh oleh hasil masa lalu. Kondisi pasar senantiasa berubah-ubah dari waktu ke waktu, dan Anda tak bisa hanya terus menerus bertaruh pada "bullish" saja atau "bearish" saja. Tentukan keputusan trading setelah menelaah kondisi pasar sebaik-baiknya, dan atur modal yang dipertaruhkan dalam setiap posisi trading berdasarkan tatanan Money Management tertentu.
#2. Membatasi Keuntungan Dan Memperlebar Kerugian
Orang cenderung untuk membatasi keuntungan mereka dan memberikan lebih banyak ruang untuk kerugian.
Tidak ada yang suka merasakan rugi. Oleh karena itu, kebanyakan investor cenderung menahan posisi rugi dan berharap tren harga di pasar akan berbalik segera sehingga setidaknya posisi trading yang awalnya rugi itu bisa ditutup dalam kondisi impas. Namun, seringkali yang terjadi justru kerugian itu makin membengkak.
Di sisi lain, jika mereka sedang profit, sebagian besar investor cenderung untuk menutup posisi trading lebih awal karena mereka takut keuntungan itu akan hilang. Setelah itu, ternyata mereka menyesal mengapa mereka tidak menahan posisi trading lebih lama lagi (terdengar familiar?).
Salah satu prinsip yang paling penting dalam trading adalah bertentangan dengan kedua fenomena itu. Realitanya, sebagian kesuksesan trader terletak pada kemampuannya untuk membatasi kerugian dan membiarkan profit bertambah. Dalam bahasa Inggris, dikenal dengan pepatah, "Cut losses short, let profits run".
Kerugian merupakan bagian yang wajar dan pasti dialami oleh semua trader. Namun, perbedaan antara trader yang profit dengan trader yang merugi, terutama pada kemampuan membatasi kerugian, sedangkan trader forex yang profit mampu menyingkirkan bias berbahaya itu dan tak sungkan untuk cut loss. Agar sukses, trader harus memahami ia bisa "mundur saat ini untuk bisa berperang di lain hari".
#3. Anggapan Bahwa Saya Pasti Benar
Secara alamiah, manusia bersifat egois dan akan melakukan apa saja untuk membuktikan bahwa dirinya benar. Oleh karena itu, seringkali karena trader beranggapan bahwa "Dolar pasti menguat" maka mempertaruhkan sebanyak-banyak modalnya untuk buy Dolar, tanpa mempedulikan kondisi pasar ataupun kapabilitas modalnya sendiri. Hal serupa bisa dialami oleh orang-orang lain, seperti "Harga emas pasti naik terus", atau lainnya.
Pada akhirnya, mereka akan memahami bahwa akurasi tinggi tidaklah penting dalam trading. Hanya karena Anda benar, tidak berarti Anda pasti akan mendapatkan keuntungan. Umpama Dolar memang menguat, maka kapan Dolar menguat? sebelumnya akan turun dulu hingga harga berapa? Hal-hal seperti itu perlu dipertimbangkan dalam menghitung besarnya modal yang siap ditanamkan untuk "membuktikan kebenaran" anggapana Anda.
Seperti yang dikatakan oleh George Soros, "Yang penting adalah bukan apakah Anda benar atau salah, tapi berapa banyak uang yang Anda buat ketika Anda benar dan berapa banyak Anda loss ketika Anda salah."
Poin ini perlu dicamkan oleh trader, sebagaimana juga ungkapan-ungkapan berharga lainnya dari trader forex paling terkenal di dunia ini.
3 Hal Yang Membatasi Profit Anda
Anggaplah Anda telah lulus sebagai ’’breakeven trader’’ dan Anda telah bisa menghasilkan profit yang konsisten. Sekarang Anda sedang berusaha untuk meningkatkan profit Anda karena Anda tahu sebenarnya bisa berbuat lebih dari yang kini telah Anda lakukan. Namun dalam kenyataannya ada tiga hal yang bisa membatasi profit Anda, yaitu:
#1. Position size yang tidak sesuai.
Position sizing adalah elemen kunci management resiko yang bisa membedakan antara memperoleh profit besar dan hanya mendapatkan profit yang kecil. Dalam hal ini selain pengaturan risk/reward, Anda juga harus mengetahui kapan mesti trading dengan ukuran lot yang besar dan kapan harus trading dengan ukuran lot kecil, atau Anda harus bisa mengatur position size.
Jika pasar bergerak sesuai dengan arah prediksi Anda dan sistem trading Anda mengisyaratkan sinyal dengan probabilitas yang tinggi dengan potensi reward yang besar, maka adalah saat yang tepat untuk meningkatkan resiko Anda. Dalam permainan blackjack, hal ini seperti Anda bertaruh dengan nilai besar saat kartu berpihak pada Anda. Sebaliknya jika Anda melihat ketidak-pastian seperti jika Anda trading pada saat rilis berita fundamental, dan juga potensi reward yang tidak pasti, Anda bisa mengurangi resiko dengan memperkecil ukuran lot trading.
#2. Ketidak-mampuan beradaptasi dengan kondisi pasar.
Untuk memaksimalkan perolehan Anda dari perubahan harga pasar, Anda harus fleksibel dan mengetahui bagaimana mengatur posisi Anda pada saat terjadi perubahan pergerakan harga. Anda tidak bisa mengharapkan pergerakan yang besar ketika volatilitas sedang rendah dan kondisi pasar sedang sideways (ranging). Hal ini tidak akan berjalan baik.
Anda harus mempunyai alasan yang kuat pada apa yang Anda harapkan dan selalu merencanakan trading Anda dengan kondisi pasar yang ada. Dalam hal ini Anda harus bisa beradaptasi dengan kondisi pasar dan tidak melawan kondisi tersebut.
#3. Rasa takut.
Masuk posisi buy pada saat harga telah naik atau masuk sell saat harga telah turun akan membuat trading Anda sesuai dengan momentum yang tengah terjadi, tetapi ada kekurangannya. Yang pasti Anda tidak memperoleh harga buy atau sell yang bagus, apalagi jika pergerakan naik atau turunnya harganya cukup kuat. Biasanya Anda akan masuk pada level harga yang rawan berbalik arah (pull back).
Dalam kondisi yang demikian Anda akan cenderung takut dan ragu, sehingga posisi Anda bisa tidak optimal, atau Anda masuk setelah pasar bergerak cukup jauh. Cara trading yang demikian sering disebut dengan memburu pasar (chasing the market).
Ketiga hal diatas perlu diperhatikan trader. Sekalipun mungkin Anda telah bisa menghasilkan profit secara rutin bukan berarti Anda harus berhenti melakukan perbaikan-perbaikan.
#1. Position size yang tidak sesuai.
Position sizing adalah elemen kunci management resiko yang bisa membedakan antara memperoleh profit besar dan hanya mendapatkan profit yang kecil. Dalam hal ini selain pengaturan risk/reward, Anda juga harus mengetahui kapan mesti trading dengan ukuran lot yang besar dan kapan harus trading dengan ukuran lot kecil, atau Anda harus bisa mengatur position size.
Jika pasar bergerak sesuai dengan arah prediksi Anda dan sistem trading Anda mengisyaratkan sinyal dengan probabilitas yang tinggi dengan potensi reward yang besar, maka adalah saat yang tepat untuk meningkatkan resiko Anda. Dalam permainan blackjack, hal ini seperti Anda bertaruh dengan nilai besar saat kartu berpihak pada Anda. Sebaliknya jika Anda melihat ketidak-pastian seperti jika Anda trading pada saat rilis berita fundamental, dan juga potensi reward yang tidak pasti, Anda bisa mengurangi resiko dengan memperkecil ukuran lot trading.
#2. Ketidak-mampuan beradaptasi dengan kondisi pasar.
Untuk memaksimalkan perolehan Anda dari perubahan harga pasar, Anda harus fleksibel dan mengetahui bagaimana mengatur posisi Anda pada saat terjadi perubahan pergerakan harga. Anda tidak bisa mengharapkan pergerakan yang besar ketika volatilitas sedang rendah dan kondisi pasar sedang sideways (ranging). Hal ini tidak akan berjalan baik.
Anda harus mempunyai alasan yang kuat pada apa yang Anda harapkan dan selalu merencanakan trading Anda dengan kondisi pasar yang ada. Dalam hal ini Anda harus bisa beradaptasi dengan kondisi pasar dan tidak melawan kondisi tersebut.
#3. Rasa takut.
Masuk posisi buy pada saat harga telah naik atau masuk sell saat harga telah turun akan membuat trading Anda sesuai dengan momentum yang tengah terjadi, tetapi ada kekurangannya. Yang pasti Anda tidak memperoleh harga buy atau sell yang bagus, apalagi jika pergerakan naik atau turunnya harganya cukup kuat. Biasanya Anda akan masuk pada level harga yang rawan berbalik arah (pull back).
Dalam kondisi yang demikian Anda akan cenderung takut dan ragu, sehingga posisi Anda bisa tidak optimal, atau Anda masuk setelah pasar bergerak cukup jauh. Cara trading yang demikian sering disebut dengan memburu pasar (chasing the market).
Ketiga hal diatas perlu diperhatikan trader. Sekalipun mungkin Anda telah bisa menghasilkan profit secara rutin bukan berarti Anda harus berhenti melakukan perbaikan-perbaikan.
Langganan:
Postingan (Atom)