Jumat, 31 Agustus 2018

10 Kaidah Menggunakan Chart Dalam Trading Forex

Grafik, atau Chart, digunakan secara luas oleh para trader, baik itu grafik garis (line chart), grafik bar (bar chart), maupun candlestick. Sepintas, cara memakainya mudah. Cukup melihat grafik, pasang indikator, lalu buka posisi sesuai strategi/sistem trading yang dipakai. Namun, tahukah Anda bahwa ada 10 kaidah menggunakan chart dalam trading forex yang sering diabaikan oleh trader?

Berikut beberapa aturan tersebut, yang disarikan dari tulisan Michael Kahn, seorang analis, penulis, sekaligus kolumnis tentang pasar finansial. Tiga bukunya tentang analisa teknikal laris manis dan kolomnya di media Barron's Online pun banyak jadi rujukan, sehingga dapat ditebak bahwa panduan menggunakan chart dalam trading forex ini bisa bermanfaat bagi kita:

#1. Jika tidak melihat trend dan pola-pola segera setelah membuka chart, berarti disitu tak ada tren maupun pola-pola tertentu.
Jangan memelototi chart terus menerus. Semakin lama dipelototi, semakin otak kita akan berusaha membuat pola tertentu, meskipun sebenarnya tidak ada apa-apa.

#2. Jika tidak bisa menentukan apakah pasar itu bullish atau bearish setelah tiga indikator, maka jangan berusaha untuk menganggap ada trend disitu.
Menurut Kahn, semakin banyak indikator yang digunakan, maka makin besar kemungkinannya akan muncul "sesuatu" yang tidak benar. Kahn menilai bahwa jika sudah menerapkan tiga atau empat indikator (volume, momentum, trend, dan Fibonacci) tetapi tak bisa menemukan apa-apa, maka itu artinya pasar memang belum memutuskan akan terjadi apa-apa.

#3. Jangan memaksa chart untuk memunculkan hal yang kita inginkan.
Sesungguhnya kita bisa saja mengganti-ganti indikator agar entah bagaimana caranya indikator itu memunculkan suatu bias tertentu yang kita inginkan, tetapi hal itu tidak tepat. Kita tak bisa mendikte pasar.

#4. Setiap kali menggunakan chart dalam trading forex, pastikan memeriksa satu timeframe lebih besar dari chart yang kita gunakan untuk melihat gambaran pasar yang lebih besar, khususnya bagi trader jangka panjang (chart weekly untuk swing trader, chart monthly untuk position trader). Pasalnya, akan mudah sekali untuk terjebak koreksi sesaat jika tak melihat gambaran pasar yang lebih besar.

#5. Periksa baik bar (atau candle) maupun Close-Only Line Chart (grafik garis berdasarkan Closing Price).
Kadang-kadang level high dan low penting terbentuk dalam pergerakan intraday atau intra-week, tetapi kadang juga level-level itu hanyalah anomali. Kaidah menggunakan chart dalam trading forex yang satu ini terutama penting bagi position traders.
#6. Pola - pola chart yang muncul harus proporsional dengan trend yang berusaha dikoreksi atau dibalikkan olehnya.
Kahn menyatakan bahwa ia "suka" kalau trend setidaknya tiga kali lebih panjang dari pola. Konkritnya: koreksi tiga hari tidak cukup untuk membalik trend harga yang sudah berlangsung enam bulan, sedangkan pullback tiga bulan setelah enam bulan reli bisa jadi merupakan trend baru bukannya koreksi.
#7. Pola-pola chart harus simetris.
Pola Triangle harus kelihatan seperti triangle, bukannya tinggi sekali di satu sisi dan super mini di sisi satunya. Demikian pula pola Head and Shoulders harus nampak seperti satu puncak dengan dua puncak yang lebih kecil tapi setara di kedua sisi-nya, bukan timpang satu bahu tinggi dan satunya lagi melorot.
#8. Kondisi pasar belum berubah selama price action belum menunjukkan perubahan.
Menurut Kahn, sentimen pasar adalah "kemewahan" bagi kita karena sering sulit dikuantifikasikan. Tak peduli seberapa kuat sinyal yang dikirim indikator dan kondisi fundamental pasar, perubahan kondisi pasar baru muncul ketika ada price action yang menunjukkannya. Pasar overbought pun bisa makin overbought jika baru indikator saja yang mengatakan itu overbought.
#9. Selalu konfirmasi satu tipe indikator dengan tipe indikator yang berbeda.
Umpamanya, konfirmasikan RSI dengan indikator On-Balance Volume, bukan dengan MACD. Hati-hati dan pastikan tipe indikator yang dipakai antara untuk mendeteksi sinyal dan mengkonfirmasi adalah tipe yang berbeda, jangan hanya memakai banyak sekali indikator tetapi ternyata semuanya indikator momentum (RSI, Commodity Channel Index/CCI, Stochastic).
#10. Jika stop loss tersentuh, maka tutup posisi.
Jangan menunda-nunda dalam menutup posisi loss, karena semua loss besar bermula dari loss kecil. Kita boleh-boleh saja me-review ulang sebuah posisi trading yang kena stop loss di atas chart, tetapi jangan berusaha membela mati-matian posisi yang sudah kalah.

Melindungi Profit Dengan Trailing Stop

Seringkali di chat room ada temen trader yang nanya: “udah ijo 100 pips nih…, close gak ya?” Gak tau sih… dia bilang githu dalam rangka mencari pendapat beneran ato sekedar pamer. Yang jelas, kalo saya yang diminta saran singkatnya sih saya akan bilang: “close ajah, mo ambil profit aja kok repot”. Nah, kalo diminta saran rada seriusnya sih, saya akan bilang: "Liat trend-nya dulu aja, kalo udah lemah, close ajah, kalo masih kuat, geser aja SL-nya”.

Nah, geser-geser SL ini disebut trailing stop dan intinya dimaksudkan untuk melindungi profit yang telah kita peroleh. Ngomong-ngomong masalah geser-menggeser SL (dan TP) ini, masing-masing trader punya kebiasaan masing-masing. Ada temen trader yang biasa menggeser SL setiap 10 pips, ada juga yang menggunakan patokan menggeser SL setiap setengah TP. Maksudnya, kalo misalnya dia ambil TP 50 pips, maka SL akan digesernya setiap 25 pips.

Ada trader yang menggunakan patokan support-resistant dalam menggeser SL, ada juga yang menggunakan level-level fibonacci sebagai patokannya. Apapun patokan yang kita gunakan untuk menggeser SL, yang jelas sih, diharapkan dengan upaya ini, profit yang sudah kita peroleh akan terlindungi. Jangan sampai sebenernya posisi udah “pernah” ijo, tapi karena kemudian pergerakan berbalik arah, akhirnya justru loss yang kita dapet. Sebenernya selain kita bisa menggeser SL, kita juga bisa menggeser TP kita mengikuti kekuatan trend.

Memang butuh ketelatenan tersendiri, terutama kalo kita trading di trading platform yang mengharuskan kita melakukan geser menggeser ini secara manual. Akan tetapi dengan menggeser TP (dan SL) kita akan bisa terus mengikuti trend tanpa “rugi” spread. Maksudnya? Begini, kita memang bisa segera meng-close posisi yang udah ijo untuk bisa segera mengambil keuntungan yang sudah kita peroleh. Kalopun trend ternyata masih berlanjut, kita bisa melakukan open position lagi.

Iya sih, cara ini memang lebih mudah, tapi dengan berkali-kali melakukan open-close position, berarti
kita akan berkali-kali juga terkena spread. Iya kalo spread “cuma” 2 pips kadang-kadang di beberapa
broker, untuk pair-pair tertentu, spead bisa mencapai 9 sampai belasan pips yang tentunya akan
lumayan kalo bisa dihindari. Nah, melakukan trailing TP dan SL ini bisa dilakukan untuk mengikuti
pergerakan yang ada, tanpa berkali-kali terkena spread.
Hambatan utama untuk melakukan trailing ini adalah kurangnya ketelatenan. Apalagi kalo trading
platform yang kita gunakan mengharuskan kita menggeser-geser TP maupun SL secara manual. Kita
harus rajin-rajin memantau chart dan menggeser SL maupun TP secara manual yang tentunya
lumayan butuh waktu dan ketelatenan extra. Bagi trader yang hanya bisa meluangkan waktu yang
relatif terbatas untuk trading, bisa jadi trailing secara manual ini memang susah untuk dilakukan.
Terus terang saya sendiri seringkali harus secara berkala mengecek posisi plus menggeser SL atau TP
kalo memungkinkan. Tapi seringkali ya “kecolongan” juga sih. Begitu di cek, eh, posisi udah terclosed.
Mungkin dasarnya sifat manusia yang kurang bersyukur ya. Udah kena TP, kok ya bisa-bisanya masih
menyesal juga. Biasanya sih yang terlintas dalam pikiran: “yah.. kok tadi cuma ambil 50 pips sih…
padahal geraknya sampai 100 pips lebih…” Nah tuh… kalo kata mentor saya, menyesali keputusan
yang telah kita ambil dalam bertrading itu tandanya kita belum punya psikologis yang matang untuk
jadi seorang trader. Tapi bagaimanapun, saya setuju dengan pendapat seorang temen, bahwa SL ijo
itu bisa bikin hati lebih tenang. Jadi? Ya telaten-telaten lah melakukan trailing.

5 Langkah Untuk Sukses Dalam Trading Forex

Tulisan ini adalah mengenai pengalaman seorang trader forex yang merasa telah sukses dalam profesi tradingnya. Langkah-langkah apa saja yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia forex? Berikut penuturannya tentang lima langkah untuk sukses dalam trading forex. Ia telah menjalani langkah-langkah ini hingga merasa nyaman dalam trading dan account-nya berkembang dengan profit yang konsisten.

#1. Mengikuti Perkembangan Hasil Trading.
Membuat sebuah jurnal trading untuk evaluasi hasil trading dari hari ke hari, sangat penting dilakukan oleh seorang trader yang ingin sukses dalam trading forex dan ingin "trading for living". Jurnal trading berisi track record hasil trading dari waktu ke waktu, kurva equity (equity curve), dan kurva balance, serta komentar atau catatan kecil didalamnya.

Track record hasil trading dan kurva equity mungkin bisa Anda peroleh dari platform trading broker forex tempat Anda menginvestasikan dana dan trading. Namun, saya lebih suka membuat jurnal trading sendiri sesuai selera, hingga saya merasa nyaman dan bebas memberikan catatan kecil atau komentar tentang hal atau kejadian penting dalam trading.

Saya selalu mencatat posisi trading setiap saya masuk atau menutup posisi, melakukan evaluasi cara trading dengan melihat kurva equity, dan memantau perkembangan hasil akhir trading keseluruhan melalui kurva balance (tidak termasuk posisi yang masih open). Berbeda dengan rencana trading yang berisi strategi dan money management untuk diterapkan saat kita trading; jurnal trading adalah alat untuk introspeksi diri, dimana posisi kita sekarang dan bagaimana perkembangan hasil trading kita.

Jika rencana trading adalah pakaian kita, maka jurnal trading adalah cermin, sudah pantaskah penampilan kita? Tanpa bercermin, tentu kita tidak tahu bagaimana penampilan kita. Jurnal trading Anda adalah ukuran perkembangan hasil akhir trading Anda.

#2. Menjaga Kestabilan Emosi
Seperti telah kita ketahui, melibatkan emosi dalam trading bisa berakibat fatal dan beujung pada kehancuran account trading.

Jika Anda telah bisa mengendalikan emosi Anda ketika trading, tetapi karena pengaruh di luar trading membuat emosi Anda tidak stabil, maka sebaiknya Anda tidak trading dulu sampai emosi Anda kembali stabil.

Jika Anda trading ketika merasa stress atau tertekan karena sesuatu hal di luar trading, maka efek terhadap trading Anda akan negatif. Mungkin Anda bisa konsentrasi, tetapi efek negatif dari tekanan emosi tersebut akan sangat berpengaruh ketika Anda mengambil keputusan. Dari pengalaman saya, melakukan pekerjaan lain di luar trading ketika sedang stress, akan membantu memulihkan emosi.

Trading forex sangat rentan oleh pengaruh emosi, oleh karena itu jagalah kestabilan emosi ketika Anda trading.

#3. Menjaga Konsistensi Proses Trading
Proses trading adalah penerapan langkah-langkah sesuai urutan dalam rencana trading dengan konsisten, berapapun besarnya balance dalam account trading Anda. Proses trading yang konsisten berakibat pada hasil trading yang konsisten pula. Kecakapan (skill) Anda dalam trading forex diukur dengan hasil akhir trading yang konsisten dalam jangka panjang, bukan hasil dari sekali atau dua kali masuk pasar.

Sangat mungkin balance dalam account Anda akan terus tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu, tapi hendaknya Anda tetap menjaga konsistensi proses trading Anda. Banyak trader yang tidak konsisten dengan proses trading setelah balance account-nya makin bertambah besar. Mereka menyederhanakan rencana tradingnya dengan mengabaikan hal-hal yang sebelumnya selalu diperhatikan, sehingga hasil akhir tradingnya malah mengecewakan.

Mereka menganggap lebih mudah trading dengan balance besar daripada mengelola balance kecil. Skill trading mereka telah berubah (atau mungkin menurun) karena menganggap enteng konsistensi proses trading.

Perhatikan: Seorang pemain gitar rock yang benar-benar jago seperti Jimi Hendrix (almarhum) atau Ritchie Blackmore (Group Deep Purple) akan sama skill bermainnya baik menggunakan electric guitar yang murahan atau yang mahal. Seorang trader forex yang profesional akan sama skill tradingnya baik ketika mengelola dana US$ 1,000 atau US$ 1,000.000.

#4. Selalu Realistis
Anda seharusnya realistis dalam menyikapi hasil trading Anda. Jika hasilnya masih belum seperti yang Anda harapkan dan Anda merasa perlu belajar lagi atau perlu mencoba suatu strategi trading dengan account demo, lakukanlah itu.

#5. Metode Trading Yang Sederhana Dan Efektif
Usahakan agar metode trading dalam rencana trading Anda tidak rumit dan mudah diterapkan, serta efektif dan profitable dalam jangka panjang. Lha apakah ada metode trading yang demikian? Bagi saya yang telah menggunakan metode trading dengan price action, saya merasa metode tersebut mudah diterapkan, sederhana, efektif, dan yang paling penting profitable.

Setiap orang bisa memiliki strateginya masing-masing, tetapi tak boleh mengabaikan poin penting bahwa Anda bisa menerapkannya dan strategi itu bisa menghasilkan profit secara efektif.

3 Langkah Sederhana Untuk Scalping

Salah satu yang paling sulit bagi scalper sebelum entry adalah menentukan strategi. Strategi trading ada yang kompleks dan ada yang sederhana, dan membuat rencana untuk entry dengan strategi tertentu bagi scalper tidak harus kompleks. Artikel ini mencontohkan strategi trading yang sederhana dengan indikator CCI (Commodity Channel Index) untuk scalping. Hanya 3 langkah yang perlu dilakukan yaitu menentukan arah trend, menentukan momentum entry dengan indikator CCI, dan menentukan level exit sesuai dengan management resiko.

#1 Menentukan Arah Trend
Scalper biasanya menggunakan time frame 1 menit hingga 15 menit. Untuk menentukan arah trend biasanya digunakan indikator exponential moving average (ema). Pada contoh NZD/USD berikut digunakan ema periode 200. Jika harga bergerak diatas garis kurva ema-200 maka diasumsikan trend sedang bullish dan trader akan menunggu peluang momentum untuk buy, sebaliknya jika harga bergerak dibawah ema-200 maka trader menunggu peluang sell.

Dari gambar di atas, tampak harga masih trending dengan kuat yang ditunjukkan oleh jarak antara penutupan harga dengan ema-200 yang makin lebar. Selain itu pergerakan harga juga membentuk level-level higher high (level high baru yang lebih tinggi dari level high sebelumnya) dan higher low (level low baru yang lebih tinggi dari level low sebelumnya) yang merupakan ciri pergerakan uptrend.

#2 Momentum Entry Dengan Indikator CCI
Karena trading dengan time frame rendah, maka setelah mengetahui arah trend trader harus segera menentukan momentum entry sebelum momentum tersebut hilang dan trend berubah. Salah satu indikator yang bisa membantu menentukan momentum entry adalah CCI. Selain digunakan untuk mengetahui keadaan overbought dan oversold, indikator CCI juga menunjukkan siklus pergerakan harga atau saat-saat pergantian arah trend, yaitu ketika terjadi divergensi antara arah pergerakan harga dan arah pergerakan indikator.

Karena pada contoh ini pergerakan harga uptrend, maka trader akan menunggu terjadinya keadaan oversold untuk entry, yaitu ketika CCI berada dibawah level -100 seperti tampak pada gambar diatas. Sebaliknya untuk entry sell dilakukan hanya bila harga bergerak dibawah garis kurva indikator ema-200 dan indikator CCI menunjukkan keadaan overbought.

#3 Level Exit Sesuai Dengan Manajemen Resiko
Manajemen resiko adalah hal yang krusial dalam scalping karena biasanya trader akan entry beberapa kali dalam sehari. Trader bisa menggunakan level ekstrem (tertinggi atau terendah) sebelumnya sebagai level stop loss, atau dengan menentukan level stop loss pada garis kurva itu sendiri. Risk/reward ratio tidak harus tinggi, tetapi usahakan lebih besar dari 1:1.

Indikator Volume Pada Platform Metatrader

Perdagangan forex tidak terpusat seperti halnya perdagangan saham, sehingga volume yang terukur pada platform trading tidak menunjukkan volume perdagangan seluruh partisipan pasar forex, melainkan terbatas hanya pada mereka yang trading di suatu broker tertentu. Dengan demikian, ukuran volume sebuah broker untuk suatu pasangan mata uang tertentu bisa berbeda dengan broker lainnya.

Namun demikian, jika melihat beberapa strategi yang digunakan dalam trading forex, kita akan menjumpai strategi trading dengan menggunakan indikator volume. Hal ini tentu logis karena naiknya volume perdagangan akan menyebabkan pergerakan harga semakin predictable atau dengan mudah bisa diperkirakan. Pada saat harga bergerak uptrend, volume buy yang naik akan menyebabkan trend semakin kuat dan sebaliknya jika volume sell yang dominan maka trend akan melemah dan bahkan bisa berbalik bearish.

Strategi trading dengan indikator volume ini sangat relevan di pasar saham (bukan indeks harga saham), karena transaksi pada perdagangan saham selalu mencantumkan data volume, namun kurang relevan untuk pasar forex. Menurut mereka yang trading menggunakan platform Metatrader 4, data volume yang ditampilkan menunjukkan jumlah trade yang telah dilakukan, tergantung dari server broker mana trader tersebut melakukan transaksinya. Semakin banyak trader yang bertransaksi pada suatu broker akan semakin akurat indikator volume yang ditampilkan.

Dalam hal ini, volume diukur berdasarkan tick, dan ketika terjadi perubahan harga bid (dan ask) pada tampilan platform trading, maka volume akan bertambah. Volume yang tinggi adalah akibat seringnya harga berubah, dan sebaliknya volume rendah menunjukkan jarangnya perubahan harga. Jadi, volume dalam pasar forex tidak diukur dalam jumlah kontrak yang diperdagangkan seperti halnya pasar saham.

Namun demikian, platform Metatrader digunakan hanya oleh para trader retail yang jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan trader di institusi keuangan besar yang menentukan pergerakan harga pasar. Trader institusi keuangan dan bank besar menggunakan platform trading yang sama sekali berbeda dengan trader retail yang menggunakan Metatrader, sehingga tick volume pada Metatrader tidak menunjukkan besarnya volume dari transaksi dari keseluruhan partisipan pasar forex. Selain itu, para trader institusi tersebut juga tidak menggunakan server broker trader retail.

Jika kebetulan Anda menggunakan strategi yang melibatkan indikator volume dalam Metatrader seperti Volume, On Balance Volume, Money Flow Index, Force Index dan lainnya, termasuk jika Anda menggunakan Expert Advisor (EA) yang berbasis indikator volume, sebaiknya Anda memilih broker besar yang sangat likuid. Perlu diketahui bahwa akurasi volume pada live account jauh lebih akurat dari demo account.

Cara Untuk Menggunakan Indikator Parabolic SAR

Pada kesempatan kali ini kita akan berbicara tentang salah satu indikator trend yang banyak dipakai orang. Indikator ini mampu memberikan sinyal pembalikan dari sebuah pergerakan harga. Indikator tersebut adalah Parabolic SAR.

Cara menggunakan indikator Parabolic SAR sebetulnya tidak jauh berbeda seperti menggunakan indikator moving average. Poin penting dalam menentukan level entry adalah menunggu peristiwa breakout setelah indikator menujukkan peristiwa pembalikan arah.

Untuk mempermudah dalam menjelaskan, kali ini sudah saya siapkan gambar salah satu pergerakan harga dengan beberapa keterangan tambahan.

Oke, hal yang perlu diperhatikan adalah awal mula pergerakan. Pada gambar di atas sudah diberi keterangan Awal Harga Turun, dari situ kita mencoba mengawali dalam melakukan analisis untuk menentukan level entry yang tepat.

Pada gambar sudah ada garis trendline putih sebagai pembatas atau tanda jika harga telah breakout dari level resistance.

Setelah Awal Harga Turun, maka muncul Parabolic SAR Up Trend. Dari situ terlihat bahwa sinyal pembalikan sudah mulai muncul.

Tetapi yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah kapan waktu yang tepat untuk melakukan entry atau open posisi?

Dari gambar sudah diberi tanda Level entry sebagai posisi ideal dalam melakukan open posisi. Hal ini berdasarkan pertimbangan breakout yang sudah terjadi.

Untuk menentukan stop loss sendiri juga sudah diberikan keterangan pada gambar beserta level take profit. Dalam menentukan level stop loss bisa melihat posisi titi awak pembalikan dari indikator Parabolic SAR. Sedangkan untuk target profit bisa mengambil posisi resistance terdekatnya atau penerapan money management forex dengan resiko dan reward 1:1.

Secara singkat sebetulnya cara ini sudah bisa dilihat pada gambar. Dengan mempertimbangkan harga breakout, posisi support dan resistance maka level entry tersebut akan kelihatan.

Poin Penting Dalam Menggunakan Indikator Parabolic SAR.

Hal ini sebetulnya menjadi poin paling penting dalam menggunakan indikator trend apapun termasuk Parabolic SAR. Ketika kita sudah melakukan analisis sedemikian rupa dan berharap harga bergerak sesuai prediksi namun dalam kenyataannya harga tidak bergerak sesuai estimasi, hal tersebut bukan berarti menjadi kesalahan dalam sistem trading. Tetapi hal itu merupakan faktor resiko yang tidak bisa dikesampingkan dalam trading forex.

Maka dari itu stop loss menjadi kunci penting dalam menjaga keamanan akun agar tidak mengalami kerugian yang terlalu besar. Dengan mengatur tingkat kerugian melalui nilai Lot yang digunakan, maka kemungkinan besar akun akan aman dan terus berkembang.

Jadi dalam menggunakan indikator Parabolic SAR ini, kita tidak boleh melepaskan faktor resiko. Dalam melihat analisis seperti di atas tidak boleh beranggapan atau menilai hal tersebut lumrah karena melihat peristiwa yang sudah terjadi atau history.

Namun dengan mengamati perilaku indikator pada pergerakan sebelumnya itu merupakan poin penting dalam menilai kinerja indikator itu sendiri. Untuk menggunakannya pada perdagangan berikutnya, faktor yang menjadi benteng pertahanan adalah stop loss. Jadi jangan takut dengan stop loss, justru itu cara aman dalam menerapkan analisis teknikal.

Semoga artikel singkat ini bermanfaat dan bisa membantu Anda dalam menggunakan Indikator Parabolic SAR.

Trading Mudah Banget Dengan MACD

MACD adalah salah satu indikator yang sudah terpasang secara default di metatrader. Indikator ini termasuk dalam golongan indikator oscillator sebagai sinyal terjadinya jenuh jual maupun jenuh beli. Banyak para trader yang menyukai indikator ini karena lebih simpel dan mudah dalam menganlisis sebuah pergerakan.

MACD sendiri singkatan dari Moving Average Convergence Divergence. Bila dilihat dari namanya indikator ini memiliki basis pada moving average atau rata-rata pergerakan pasangan mata uang dalam periode tertentu.

Trading dengan MACD biasanya dilakukan ketika terjadi pola divergence karena pada saat itu sedang terjadi ketidakseimbangan harga. Apa itu divergence dan convergence?

Convergence:

adalah kondisi dimana kecenderungan harga dalam posisi turun sedangkan pada indikator terjadi kenaikan begitu juga sebaliknya, hal ini terlihat pada nilai puncak pada indikator MACD tidak tampak pada grafik harga atau bukan puncak sesungguhnya pada grafik harga.

Divergence:

adalah kondisi dimana terjadi perbedaan antara puncak atau lembah pada indikator dibandingkan dengan puncak atau lembah pada grafik harga. Moment ini membuka peluang untuk terjadi perubahan arah atau penerusan arah.

Dalam variasinya kondisi Divergence dibagi menjadi empat yaitu:

Bullish Divergence.
Bearish Divergence.
Hidden Bullish Divergence.
Hidden Bearish Divergence.

Bagaimana cara trading dengan MACD ketika terjadi empat pola tersebut?

Trading Dengan MACD Saat Ada Pola Bullish Divergence:

Bullish Divergence terjadi apabila harga terjadi penurunan sedangkan indikator terjadi kenaikan dan lembah pada grafik lebih rendah dibanding lembah sebelumnya sedangkan lembah pada indikator MACD lebih tinggi dibanding lembah sebelumnya. Moment ini membuka peluang untuk terjadi perubahan arah trend yang tadinya turun atau bearish menjadi naik atau bullish. Maka posisi yang ideal adalah melakukan buy

Trading Dengan MACD saat Ada Pola Bearish Divergence:

Bearish Divergence terjadi apabila harga terjadi kenaikan sedangkan indikator terjadi penurunan dan puncak pada grafik lebih tinggi dari puncak sebelumnya, sedangkan pada indikator terjadi puncak lebih rendah dibanding puncak sebelumnya. Moment ini membuka peluang perubahan arah yang tadinya naik atau bullish menjadi turun atau bearish. Maka posisi ideal adalah melakukan sell.

Trading Dengan MACD Saat Ada Pola Hidden Bullish Divergence:

Hidden Bullish Divergence terjadi apabila harga cenderung naik dan berlanjut naik sedangkan sebalikanya pada indikator terjadi kecenderungan turun dan lembah pada grafik lebih tinggi dari lembah sebelumnya, sedangkan lembah pada indikator lebih rendah dibanding lembah sebelumnya. Maka posisi ideal adalah melakukan buy.

Trading Dengan MACD Saat Ada Pola Hidden Bearish Devergence:

Hidden Bearish Divergence terjadi apabila harga cenderung turun dan berlanjut turun sedangkan terjadi sebaliknya pada indikator. Puncak pada grafik lebih rendah dibanding puncak sebelumnya dan terjadi sebaliknya pada indikator puncak lebih tinggi dibanding puncak sebelumnya. Maka posisi ideal adalah melalukan sell.
Kesimpulan:

Secara garis besar moment divergensi adalah terjadinya perbedaan antara puncak atau lembah pada grafik dengan puncak atau lembah pada indikator. Bullish Divergence dan Bearish Divergence adalah peluang untuk terjadinya pembalikan arah atau trend sedangkan Hidden Bullish Divergence dan Hidden Bearish Divergence merupakan sinyal untuk terjadinya penerusan arah trend.